Lima Tahun Gagal Tanam Padi

6 total views, 3 views today

KAYUAGUNG – Kegagalan tanam padi bagi masyarakat di tiga kecamatan yakni Sirah Pulau Padang, Pampangan dan Jejawi, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), sudah berlangsung hampir 5 tahun belakangan ini. Namun ironisnya, hingga kini belum ada pemecahan solusi guna mengatasi permasalahan yang dihadapi para petani di tiga kecamatan tersebut.

Namun demikian, tim terpadu Pemkab OKI yang diketuai oleh Wakil Bupati, M Rifai SE, terus berupaya menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para petani, dengan mengundang para manajer perusahaan yang diduga menjadi penyebab kegagalan tanam ini karena tingginya debit air di persawahan milik warga.

Pertemuan yang digelar di Ruang Rapat Bende Seguguk I Setda OKI, Rabu (23/4/2014) ini juga mengundang perwakilan petani yang menjadi korban gagal tanam. Menurut perwakilan warga Sirah Pulau Padang, Nawawi, pemerintah seharusnya mencarikan solusi agar kegagalan tanam yang dialami petani ini tidak berkepanjangan.

“Ini sudah memasuki tahun kelima, jika kami selalu gagal tanam, kami dan keluarga mau makan apa, sementara mayoritas pencarian masyarakat di 3 kecamatan ini adalah petani,” ujar Nawawi.

Nawawi meminta kepada perusahaan yakni PT Waringin Agro Jaya, PT Rambang Agro Jaya, PT Gading Cempaka dan perusahaan lainnya yang beroperasi di 3 kecamatan tersebut untuk membuatkan pintu air agar aliran air dari perkebunan perusahaan tidak menggenangi persawahan warga.

“Ada 3 permintaan kami, pertama perusahaan memperjelas perbatasan antara tanah perusahaan dengan sawah warga. Kedua penutupan pintu air di Desa Belanti SP Padang dan ketiga pembangunan drainase di Desa Ulak Jermun yang jebol,” beber Nawawi dihadapan Wabup OKI, M Rifai.

Jika ketiga permintaan itu dilaksanakan, kata Nawawi, dipastikan kedepan petani tidak mengalami gagal tanam lagi dan bisa melakukan pemanenan padi seperti beberapa tahun sebelumnya.

“Debit air dari perusahaan ini terkadang tidak terkontrol, sehingga pada musim kemarau saja sawah kami digenangi air dari tanggul yang didirikan perusahaan, jadi bagaimana kami mau tanam padi,” terangnya.

Dikatakannya, drainase yang ada di Desa Ulak Jermun telah dibangun sejak puluhan tahun lalu, namun baru memasuki tahun pertama sudah jebol.

“Kalau tidak salah itu dibangun Dinas PU. Tembok drainase itu jebol di bagian kiri dan kanannya, sehingga air dengan mudah masuk ke areal sawah petani dan menggenanginya. Inilah permasalahan yang kami hadapi 5 tahun terakhir,” jelasnya.

Hal senada dikatakan Camat Pampangan, Alex, yang mengaku memang ada beberapa desa di Kecamatan Pampangan yang mengalami gagal tanam.

“Saya juga sejak kecil tinggal di Pampangan, jadi tahu persis masalah yang dialami warga, karena mayoritas mata pencarian warga kami adalah bertani di sawah lebak,” ujar Camat.

Sementara menurut Bahtiar, perwakilan PT Gading Cempaka, bahwa air yang ada

di kanal yang mereka bangun tidak seluruhnya dikeluarkan, karena pihaknya juga membutuhkan air untuk jalur transportasi.

“Jadi kami yakin air yang menggenangi persawahan warga itu bukan dari kanal yang dibangun perusahaan kami,” kilahnya.

Sedangkan Roby Chandra, perwakilan PT Waringin Agro Jaya (WAJ) mengaku pihaknya sejak awal telah berkomitmen tidak akan membuang air keluar areal perkebunan.

“Namun demikian, kami ingin bersama-sama dengan tim Pemkab OKI untuk menyelesaikan masalah ini dengan menelusuri setiap titik-titik permasalahan yang memicu tingginya debit air di persawahan warga,” tukasnya.

Menanggapi hal itu, Wabup OKI, M Rifai berjanji akan segera menyelesaikan permasalahan itu.

“Sebagai Ketua Tim Terpadu Pemkab OKI, saya sendiri nanti akan ikut turun ke lapangan. Kami tidak ingin masyarakat susah, apalagi salah satu program pak Bupati OKI membangun dari desa, sehingga permasalahan yang terjadi di desa akan menjadi prioritas,” tandasnya.

 

Teks     : DONI AFRIANSYAH

Editor    :RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com