Angkutan Umum Penyumbang Inflasi Terbesar

 300 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

PALEMBANG – Berdasarkan data dan evaluasi yang dilakukan oleh tim pengendali inflasi daerah Sumsel, angkutan dalam kota (angkot), menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar yang terjadi pada 2013 lalu.

Hal ini diungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel, Permana, Rabu (23/4/2014). “Ada lima  komoditas pemberi andil terbesar terhadap inflasi tahun lalu, pertama adalah angkutan dalam kota yang memberikan andil sebesar 1,74 persen, lalu kenaikan BBM sumbsidi dan listrik masing masing 1,17 persen dan 0,49 persen,” terang Permana saat paparan dihadapan Gubernur Sumsel, Alex Noerdin.

Kemudian kenaikan harga cabai, memberikan  kontribusi sebesar 0,37 persen dan terakhir rokok kretek yang memberi andil 0,27 persen.  Hal inilah sebut Permana, yang akhirnya mengakibatkan pihaknya bersama dengan pemerintah kabupaten dan juga kota, mempercepat program pengalihan bahan bakar dari sebelumnya menggunakan bahan bakar minyak menjadi bahan bakar gas. “Bahkan di OKU Timur,  kendaraan umum sudah menggunakan bahan bakar bio diesel dari pohon jarak,” bebernya.

Namun berdasarkan data BPS Sumsel terang Permana, besaran inflasi yang melanda Sumsel pada dasarnya masih lebih kecil, dibandingkan dengan besaran inflasi secara nasional termasuk di Sumatra. “2013, inflasi Kota Palembang 7,04 persen atau lebih rendah dari rata- rata provinsi di Sumatra sebesar 8,91 persen dan nasional 8,38 persen.

Terkait kondisi diatas, Permana menjelaskan jika pada dasarnya ada enam kondisi yang menjadi pemicu untuk terjadinya inflasi yang cukup besar pada tahun lalu. Beberapa diantaranya diakui oleh Permana, berhasil diredam oleh Pemprov Sumsel dengan cara mengintervensi pasar.

Namun beberapa yang lain sebut Permana, diluar kendalinya seperti kenaikan harga BBM subsidi dan juga kenaikan tarif dasar listrik (TDL). “Gejolak tahun kemarin, karena kurangnya pasokan beberapa komoditas hortikultura akibat anomali cuaca dan keterbatasan produksi,” ucapnya.

Lalu ada juga kendala implementasi, kebijakan pengaturan (tata niaga) impor hortikultura dan daging sapi, ditambah struktur pasar yang oligopolistik dan informasi harga yang belum transparan. Sehingga sebut Permana, menyebabkan tingginya biaya distribusi yang dikibatkan juga karena kendala infrastruktur.

Untuk tahun ini, TPID Sumsel memprediksi inflasi akan kembali ke angka normal maksimalberada di angka 4,5 persen. “Tahun ini, kita menilai tidak ada kebijakan pemerintah yang cenderung meningkatkan inflasi, kondisi ini juga didukung oleh faktor iklim cuaca yang lebih baik ditambah pembangunan infrastruktur pada periode sebelumnya mulai terasa dampaknya terhadap proses distribusi,” tegasnya.

 

Teks     : IMAM MAHFUZ

Editor    : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster