Suara Anda Menentukan Kelestarian Hutan Indonesia

 346 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

PALEMBANG – Melalui penggunaan hak suara di pemilihan presiden (Pilpres) 2014, generasi muda harus sudah memiliki kesadaran untuk memperhatikan jejak rekam para calon presiden di bidang kerusakan termasuk tindak korupsi.

Menurut, Pendiri Yayasan Perspektif Baru, Wimar Witoelar mengatakan pemilu adalah sarana bagi masyarakat untuk ikut menentukan arah negara selama lima tahun mendatang melalui hak suara yang dimilikinya.

“Nanti dalam Pilpres masyarakat termasuk generasi muda harus memilih calon presiden (Capres) berdasarkan isu strategis bukan lagi pada sosok atau figur sang calon. Satu isu utama yang harus menjadi tolak ukur adalah isu kerusakan hutan dan perubahan iklim yang telah mulai menjadi kenyataan saat ini,” katanya, Selasa (22/4/2014).

Sedangkan menurut, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Abetnego Tarigan, kerusakan hutan merupakan akibat kebijakan politik yang salah seperti pemberian konsesi alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan lainnya.

“Karena itu upaya menjaga kelestarian hutan juga merupakan upaya politik seperti saat ini melalui memilih presiden yang pro kelestraian hutan dan anti korupsi,” katanya.

Sedangkan Andries, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), mengatakan bahwa salah satu sektor publik yang harus dikelolah oleh pemerintah secara baik saat ini adalah urusan kehutanan. Hutan adalah salah satu sumber kehidupan warga negara. Jika hutan diabaikan pengelolaannya, maka akan memberikan warisan baruk bagi anak cucu republik ini.

Saat ini kita harus miris melihat kondisi hutan di Indonesia yang telah diekploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Hal tersebut berdampak dalam setiap aspek, misalnyo dari sisi kebijakan publik adanya ilegal logging yang berlebihan menyebabkan esensi kebijakan tersebut tidak berpihak kepada masyarakat hidup di dalam dan sekitarnya. Dengan demikian, kapitalisasi kebijakan kehutanan harus diganti dalam governence negara Indonesia,” katanya.

Sedangkan Nunik Handayani berpendapat bahwa hutan  lingkungan adalah sumber kehidupan bagi masyarakat, pemerintahan indonesia berkomitmen menurunkan emisi sebesar 20 persen.

“Setidaknya pemerintah perlu memiliki anggaran untuk tetap menjaga dan melestarikan lingkungan, karena hutan dan alam juga telah memberikan kontribusi terhadap pendapat negara dan daerah. Tetapi pengalokasian anggaran untuk sektor tata kelola hutan hanya berkisar 0,5 persen- 1 persen dari total belanja daerah, sehingga prosesnya menjadi tidak maksimal. Yang perlu diingat bahwa kehidupan masih panjang, dan kita masih tetap harus melestraikan hutan kita,” ujarnya.

 

Teks     : AMINUDDIN

Editor    : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster