Bangunan Tua Terlupa

 2,383 total views,  4 views today

salah satu bangunan tua di palembang

salah satu bangunan tua di palembang

PALEMBANG – Merujuk prasasti Kedukan Bukit, yang ditemukan di Bukit Siguntang, Palembang didirikan Jyestha Dapunta Hiyang pada hari kelima paro terang bulan Āsāda, yang bertepatan dengan tanggal 16 Juni 682 Masehi.  Penanggalan itu, menjadikan Palembang sebagai kota tertua di Indonesia.

Sebagai kota tua, jejak sejarah dan peradaban banyak lahir di kota empek-empek ini.  Jejak sejarah itu, setidaknya terlihat dari gedung-gedung tua peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh.  Pantauan Kabar Sumatera, kemarin,  sejumlah gedung-gedung tua tersebut masih berdiri hingga saat ini.

Namun tidak seperti halnya Jakarta maupun Semarang, yang memiliki wilayah kota tua yang terpusat, gedung-gedung tua ala Eropa itu tersebar di banyak sudut kota.  Bangunan tua ini, banyak yang tidak terawat.

Cepatnya pertumbuhan ekonomi dan aktivitas komersial perkotaan,  membuat  beberapa bangunan tua tersebut rusak, hilang bahkan berubah dengan wajah baru.  Kantor eks Kantor Keresidenan Palembang yang terletak di Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo misalnya.  Bangunan yang awalnya dimanfaatkan sebagai kantor BP7 kemudian di fungsikan sebagai museum tekstil kini tidak terawat.

Bangunan itu sudah dipagar seng, untuk dibangun Hotel Heritage. Namun sampai saat ini, tidak jelas kelanjutannya bahkan terlantar.  “Bangunan itu dulunya kantor Gubernur Hindia Belanda di Sumbagsel. Kemudian 1961, menjadi kantor inspektorat kehakiman, rumah dinas Kejati Sumsel, rumah dinas Ketua DPRD Sumsel, kantor pembantu gubernur, BKD, BP7, Balitbangda dan terakhir sebagai Museum Tekstil,” jelas Vebri Al Lintani, salah seorang seniman di Sumsel.

Tidak hanya eks kantor Kresidenan Palembang yang terancam hilang.  Bangunan tua lainnya, seperti gedung eks Bioskop Flora, yang merupakan bioskop pertama di Sumsel juga bernasib sama.  Gedung yang dibangun tahun 1910,  pada 1920 berganti nama menjadi Bioskop Orintal, kemudian pada tahun 1956 berubah menjadi bioskop SAGA. Kini gedung yang terletak di Jalan Merdeka tersebut masih berdiri namun sudah dirombak menjadi Kantor Kantor Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Palembang.

Sementara itu bangunan yang tak kalah mempunyai nilai sejarah seperti eks Kantor van Jacobson van Den Berg yang terletak dipinggiran Sungai Musi, berdiri gagah tidak terawat dan kusam. Nasib bangunan tua lainnya, juga tak jauh berbeda. Eks gudang kopi di kawasan Pasar Sekanak kini tinggal dindingnya saja. Sementara bangunan tua yang menjadi pertokoan di Pasar Ilir, Sekanak juga kurang terawat.

Ketua Palembang Heritage, Ari Siswanto beberapa waktu lalu menilai pemkot tidak peduli dengan pelestarian bangunan tua tersebut, karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomi. “Banyak bangunan tua di Palembang yang terancam hilang, rusak. Itu karena pemkot tidak peduli, sehingga bangunan-bangunan itu dibiarkan kumuh, kusam dan tidak terawat. Pemkot juga sampai saat ini, belum mempunyai peraturan daerah (Perda) yang menjadi payung hukum untuk melindungi bangunan-bangunan bersejarah tersebut,” kritiknya.

Teks     : Alam Trie Putera

Editor    : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster