SU I & IT I Penyumpang Sampah Terbanyak

 217 total views,  2 views today

PALEMBANG – Saat ini, produksi sampah yang dihasilkan di Kota Palembang setiap harinya mencapai 600 ton sampai 800 ton. Sampah-sampah tersebut, paling banyak dihasilkan dari kawasan Seberang Ulu (SU) I dan Ilir Timur (IT) I.

Tingginya produksi sampah di dua kecamatan ini menurut Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana, Dinas Kebersihan Kota (DKK) Palembang, Syahril Taat, disebabkan faktor berbeda.

“Di SU I, sampah yang dihasilkan banyak karena disana banyak pasar. Sementara di IT I, sampah rumah tangga, yang mendominasi. Kecamatan IT I, merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak di Palembang,” kata Syahril yang dihubungi, Minggu (20/4/2014).

“Untuk jenis sampah sendiri beragam, ada sampah basah dan kering, dan ada pula sampah sayur-mayur. Kalau di persentasekan, dua kecamatan ini menyumbang 30 persen sampah di Palembang,” terangnya.

Untuk mengangkut sampah-sampah ini ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menurut Syahril, DKK mengoperasikan 96 unit armada pengangkut sampah yang terbagi dalam tiga shift yakni pagi, sore dan malam hari.  “Kalau pagi mulai pukul 06.00 WIB, sore pukul 16.00 WIB dan malam pukul 22.00 WIB,” bebernya.

Namun dari 96 unit armada pengangkut sampah yang dimiliki DKK itu jelasnya, ada 35 unit sudah tidak layak beroperasi lagi. Karena faktor umur. “Rata-rata yang tidak layak operasi itu, mobil keluaran tahun 1995 an. Tapi untuk sementara masih bisa difungsikan, karena tidak ada lagi armada yang bisa difungsikan,” ujarnya.

Syahril mengaku, dari 96 armada pengangkut sampah tersebut, terdiri dari 74 dum truk, 22 amrol atau truk dengan bak bisa dilepas. Sementara untuk kerusakannya bervariasi, mulai dari mesin, sampai bak sampah yang sudah keropos, yang disebabkan air sampah yang keras. “96 unit armada pengangkut sampah tersebut, beroperasi di seluruh kawasan kota Palembang yang tersebar di 16 kecamatan,” bebernya.

Ditanya apakah jumlah armada 96 unit tersebut sudah ideal ? Syahril menjawab, untuk sementara waktu ini masih bisa dikendalikan untuk mengangkut sampah. Karena katanya, untuk mengatasi tumpukan sampah di kecamatan, DKK juga memiliki 13 unit motor sampah yang berkeliling memantau setiap kecamatan. “Kalaupun memang perlu armada baru, sebaiknya dilakukan penyulaman saja, maksudnya armada yang ada saat ini diganti yang baru, karena banyak yang rusak,” imbuhnya.

Ditanya soal dana yang dikeluarkan untuk biaya perawatan 96 unit armada tersebut, Syahril menyebutkan, untuk tahun ini, DKK menganggarkan Rp 2 miliar. “Biaya perawatan perbulan berbeda-beda, tergantung kerusakan. Untuk biaya rutinnya seperti ganti oli, pasti dilakukan setiap sebulan sekali,” tukasnya.

 

Teks     : ALAM TRIE PUTRA

Editor    : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster