Andreas Leonardo : Popularitas tak Jamin Kemenangan

 627 total views,  2 views today

PALEMBANG – Popularitas dan memiliki jabatan yang strategis di legislatif, ternyata tidak menjamin seorang calon anggota legislative (caleg) akan terpilih menjadi anggota dewan yang terhormat, karena untuk dapat terpilih oleh masyarakat itu adalah kualitas, visi misi, menyerap aspirasi dan terjun langsung untuk bertemu dengan konstituennya.

Hal ini diungkapkan pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Andreas Leonardo saat dimintai komentarnya terkait banyaknya caleg incumbent yang gagal mempertahankan kursinya di DPRD.

Andres menyebut, caleg popular belum tentu akan terpilih sebagai anggota parlemen, karena yang dipilih masyarakat itu, jika caleg terjun secara langsung dengan melakukan dialog, pemaparan visi misi dan peduli dengan keadaan masyarakay.

”Popular belum tentu dipilih oleh rakyat, karena rakyat sudah cerdas dalam memilih wakil rakyat,  yang dibutuhkan masyarakat itu bagaimana caleg melakukan sosialisisasi untuk menyerap aspirasi masyarakat, sehingga jika terpilih dapat menuntaskan aspirasi yang telah disampaikan tersebut,” kata Andreas, Rabu, (16/4).

Menurutnya, yang dibutuhkan masyarakat menegah kebawah saat ini, bagaimana para caleg terjun secara langsung mulai dari memberikan bantuan dan sebagainya. ”Nama besar caleg dan partai sekarang ini tidak dinilai lagi, karena masyarakat sudah cerdas dalam memilih wakil rakyat, selain itu setiap dapil persaingan memperbutkan 1 kursi sangat ketat dan sengit,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan pengamat politik dari Unsri, Joko Siswanto. Menurutnya, popularitas tidak menjamin seorang caleg untuk terpilih sebagai wakil rakyat, namun yang dibutuhkan masyarakat adalah kualitas seorang caleg.

”Tugas wakil rakyat adalah melakukan komunikasi kepada eksekutif, untuk melakukan pengawas dan memperjuangkan kepentingan masyarakat, selain itu memiliki kemampuan dan pengalaman di dunia politik,” ungkapnya.

Namun caleg yang memiliki popularitas yang tinggi namun tidak terpilih sebagai wakil rakyat karena disebabkan Partainya memiliki sejumlah persoalan seperti kasus korupsi dan hokum, sehingga masyarakat mengalihkan dukungan kepada Partai lainnya,” urai Joko.

Sementara itu, Wasista Bambang Utoyo, caleg DPR RI dari Partai Golkar untuk daerah pemilihan (dapil) Sumsel I, tak mau berkomentar terkait banyak caleg incumbent yang gagal mempertahankan kekuasannya tersebut.

Ketua DPRD Sumsel ini juga tidak mau berkomentar, perolehan suara yang ia dapatkan.   Alasannya, saat ini masih ada beberapa desa/kelurahan di dapilnya yang masih menyelesaikan proses rekapitulasi.

“Saya belum dapat menghitung perolehan suara. Karena rekapitulasi itu nantinya siapa yang menjadi anggota dewan, harus dihitung berdasarkan jumlah partisipasi dari DPT yang ada dan jumlah surat suara yang rusak,” tukasnya.

 

TEKS            : DICKY WAHYUDI

EDITOR          : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster