Hindari Monopoli Harga, Pasar Tani Persempit Gerak Tengkulak

 226 total views,  2 views today

PALEMBANG – Sebagai upaya melindungi petani dari tengkulak, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumsel, mengajak petani dari 10 kabupaten/kota untuk menggelar pasar tani. Hal itu diungkapkan  Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan dan Hortikultura Dwi Rita Kesuma Wardani.

Menurutnya, selama ini, hasil pertanian yang ada selalu dibeli oleh tengkulak. Akibatnya terjadi monopoli harga oleh oknum tersebut. “Kalo dibeli tengkulak, tentunya petani hanya akan menjual dengan harga yang ditentukan tengkulak ini akan merugikan mereka,” kata Rita, kemarin.

Untuk itulah, agar petani bisa menikmati keuntungan, pihaknya mendorong agar produk yang berasal dari kebun petani dapat langsung dijual ke pihak konsumen tanpa melalui tangan tengkulak. “Tentunya harga yang turun ke masyarakat akan lebih murah karena mereka langsung bertemu dengan tangan pertama,” cetusnya.

Hanya saja, dalam implementasinya, upaya pembentukan pasar tani ini terkendala minimnya produksi. Padahal hasil buah-buahan maupun sayuran yang dijual benar-benar berkualitas dan segar. “Petani juga jangan hanya berpikir mengikuti pasar tani mereka harus punya sense of business,” ujarnya.

Dia membeberkan, setiap hari pihaknya selalu menggelar pasar tani di Kebun Dinas Pertanian di Kenten. Pasaranya dibukan mulai pagi hingga pukul 12.00 WIB. “Setiap minggu kita promosikan pasar ini di KI dan pada Jumat kita buka di Kantor Dinas,” ungkap Rita.

Untuk itu, ia menghimbau, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan buah dan sayuran segar namun dengan harga terjangkau dapat membelinya di pasar tani yang mereka sediakan. “Untuk kualitas dan harga akan kita jamin karena pada dasarnya kita terus melakukan pemantauan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel, Permana menegaskan, keberadaan para tengkulak ini sedikit banyak memberatkan para petani. Terlebih lagi, hampir di seluruh Sumsel, banyak sekali aktivitas para tengkulak yang memanfaatkan harga jual rendah dari para petani. “Kalau kita putuskan mata rantainya, tentu pendapatan para petani bisa bertambah. Tidak dipotong oleh para tengkula tersebut,” tegas dia.

Permana berharap, kesejahteraan petani di Indonesia bisa lebih meningkat karena stok bahan pangan bisa langsung tersalurkan dengan harga yang sesuai. Selain itu, pedagang juga tidak akan kekurangan stok pangan saat musim paceklik berlangsung. “Kita bisa menyuplai bahan pokok ke pasar tradisional, kita ingin garap barangnya bukan hanya pasarnya saja,” tukasnya.

 

TEKS            : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster