Eddy Yusuf : Tiba-tiba Mobil Itu Berada di Rumah

 590 total views,  2 views today

Eddy Yusuf dan Yulius Nawawi kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Palembang, Senin (14/4)

Eddy Yusuf dan Yulius Nawawi kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Palembang, Senin (14/4)

PALEMBANG – Dua tersangka tindak pidana korupsi (Tipikor) dana bantuan sosial (Bansos), Ogan Komering Ulu (OKU) tahun 2008, Eddy Yusuf dan Yulius Nawawi kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Palembang, Senin (14/4/2014).

Dalam sidang lanjutan ini, membahas barang bukti mobil Toyota Kijang Innova atas nama anak Eddy Yusuf, disita oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimus) Tipikor Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel) beberapa waktu yang lalu.

“Tahun 2009, tiba-tiba saja mobil itu ada pada saya dan atas nama anak saya. Karena merasa tidak pernah membeli mobil, mobil itu tidak pernah saya gunakan,” kata Eddy, saat menanggapi komentar Ishak Ali sebagai salah satu saksi dalam lanjutan sidang perkara Tipikor Bansos OKU itu.

Terkait mobil atas nama anaknya, Eddy mengaku, Sugeng pernah meminjam KTP anaknya. Eddy lalu memberikan KTP anaknya tanpa tahu KTP itu digunakan untuk kepentingan membeli mobil. Oleh sebab itu, saat mobil berada dirumahnya. “Saya terkejut karena sama sekali tidak pernah membeli mobil,” ujar Eddy.

Sebelumnya, Ishak mengatakan, Sugeng yang menjabat Kabag Perlengkapan Pemkab OKU menemui dirinya untuk membeli mobil Toyota Kijang Innova. Menurut penuturan pria yang merupakan Direktur CV Dwi Jaya ini, Sugeng membeli mobil itu untuk kepentingan kampanye Eddy yang mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur Sumsel.

Pembayaran dilakukan Sugeng secara bertahap dengan mengatasnamakan anak Eddy. “Saya dan Sugeng memang sering bekoordinasi. Ia juga pernah menyewa mobil Ford double cabin untuk kepentingan kampanye,” kata Ishak.

Dilanjutkan Ishak, Sugeng juga pernah membeli mobil Mitsubishi Strada Triton BG 9090 AE, atas nama Sugeng. Ishak juga pernah mengetahui Eddy pernah menjual mobil, namun ia tidak tahu itu mobil siapa.

“Yang pasti, saya tidak tahu perihal mobil Toyota Kijang Innova. Kalau jual mobil, itu memang saya lakukan dan mobil yang dijual memang mobil saya,” tegas Eddy.

Sebelum mendengarkan keterangan Ishak, majelis hakim Tipikor Palembang yang diketuai Ade Komarudin memanggil seorang saksi lainnya, yakni Arif Dalhar selaku pemilik percetakan CV Pena Husada. Menurut Arif, dirinya pernah diminta dibuatkan spanduk bergambar Alex dan Eddy. Adapun biayanya mencapai Rp 600 juta lebih.

“Saya tidak pernah melakukan itu. Apalagi, saya sudah tidak lagi menjabat Bupati OKU,” kata Eddy.

Usai Eddy menjalani sidang, tiba giliran Yulius menjalani sidang. Beberapa saksi yang tadi dihadirkan pada sidang Eddy kembali dihadirkan saat sidang Yulius. Jhon salah satunya. Keterangan yang disaksikan Jhon juga sama, yakni masih sebatas kegiatan ultah DKK di tahun 2008.

“Saya tidak pernah menandatangani kegiatan itu karena wewenang Bupati. Begitu juga dengan dana yang digunakan. Kalau kegiatannya, memang saya mengetahuinya,” kata Yulius.

Saksi lainnya, Marno, mengatakan, ada banyak pengajuan proposal selama Yulius menjadi Wakil Bupati OKU 2008.

Menurut Kasubag Analis Kebutuhan Bagian Umum Perlengkapan Pemkab OKU ini, salah satu proposal yang pernah diajukan ke Pemkab OKU adalah persemian Islamic Center dengan dana sekitar Rp 50 juta.

“Uangnya habis untuk dipergunakan untuk semua kegiatan dan membeli peralatan operasional. Saya juga tidak tahu sumber dananya dari mana,” kata Marno.

Terkait keterangan ini, Yulius membenarkan dia yang memberi persetejuan. Namun, masalah dana yang digunakan, dirinya tidak tahu.

Majelis hakim tipikor menutup sidang begitu para saksi usai memberikan keterangan. Sidang selanjutnya kembali digelar Kamis (17/4) nanti.

Seperti diketahui, Eddy dan Yulius naik di meja hijau setelah mendengarkan keterangan enam terpidana sebelumnya, yakni Syamsir Jalib (mantan Sekretaris Daerah Pemkab OKU), Soegeng (Pelaksana Tugas Kabag perlengkapan dan Umum Sekda OKU), Janadi (mantan Kabag Keuangan Pemkab OKU), Chairul Amri, Ahyar, dan Supriyadi Jasid.

Dari keterangan enam terpidana itu, Polda Sumsel lalu mendalaminya dan menjadikan Eddy dan Yulius tersangka dana Bansos OKU 2008, yang telah membuat kerugian negara sekitar Rp 3 miliar.

 

Teks     : Oscar Ryzal

Editor    : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster