Partai Menengah akan Jadi Rebutan Koalisi untuk Pilpres

 267 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

PALEMBANG – Hasil pemilihan umum legislatif (Pileg) 2014, memang belum diputuskan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun, dari hasil quick count (hitung cepat) yang dilakukan sejumlah survei, menempatkan tiga partai politik sebagai pemenang yakni PDI Perjuangan diposisi teratas diikuti Partai Golkar dan Partai Gerindra.

Tidak ada satu pun parpol yang meraih suara 20 persen, maka saat Pemilihan Presiden (pilpres) mendatang kata pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Andreas Leonardo, PDI Perjuangan, Golkar dan Gerindra terpaksa harus melakukan koalisi dengan parpol lain, untuk bisa mencalonkan pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres).

“Dalam kondisi ini, partai menengah akan menjadi rebutan untuk diajak koalisi.  Namun partai menengah tentu, akan bersikap hati-hati sebab jika tidak tepat mendukung salah satu capres, maka sangat kecil sekali untuk mendaptakan jatah kursi menteri di kabinet mendatang,” kata Andreas yang dibincangi, Minggu (14/4).

Ia menyebut, dalam peta politik Indonesia selama ini, partai menegah kebawah dalam mendukung berkoalisi bukan dilandasi idiologi melainkan kekuasaan. Kesamaan idiologi sebutnya, hanya jadi alasan untuk bisa mendapatkan jatah kursi di kabinet.

Hal senada diungkapkan pengamat politik Unsri,  Joko Siswanto. Ia menyebut, koalisi yang akan dibangun parpol saat pilpres mendatang memang tidak bisa dilepaskan kesamaan idiologi, visi dan misi. “Namun kedekatan ketua umum masing-masing parpol itulah, yang akan menjadi penentu untuk koalisi. Misalnya, PDI Perjuangan tidak mungkin berkoalisi dengan Partai Demokrat. Sebab Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), selalu berseberangan,” jelasnya.

Begitu juga Partai Gerindra tak akan bisa berkoalisi dengan PDI Perjuangan. Sebab Prabowo yang merupakan pendiri dan dewan penasehat Gerindra, merasa telah dikhianati oleh Megawati dalam perjanjian Batu Tulis. Namun PAN dengan Demokrat sebutnya, sangat mungkin berkoalisi sebab Hatta Radjasa dengan SBY adalah besan.

“Yang menarik justru PKB, partai ini bisa berkoalisi kemana saja. Bisa ke PDIP, Gerindra atau Golkar. Sedangkan PPP besar kemungkinan akan berkoalisi dengan Gerindra, sementara Hanura saya prediksi tidak akan mengusung Wiranto-Hary Tanoe (Win-HT) sebagai pasangan capres-cawapres, sebab suara mereka tidak mencukupi. Kemungkinan Hanura akan berkoalisi dengan Golkar

Bagaimana dengan PKS, Joko memprakirakan PKS akan mengambil langkah aman dengan berkoalisi ke parpol yang akan mengusung capres berpeluang menang. “Kemungkinan berkoalisi dengan Partai Golkar, untuk mendukung Abu Rizal Bakrie (ARB) sebagai capres.

Namun politik semua kemungkinan terjadi. Kita tunggu saja keputusan Parpol nantinya,” tukasnya.

 

Teks     : DICKY WAHYUDI

Editor    : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster