Sumsel Terkendala Pakan Untuk Pengembangbiakan Sapi

 256 total views,  2 views today

ilustrasi sapi

ilustrasi sapi

PALEMBANG – Upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel), untuk mewujudkan swasembada daging sapi terbilang cukup berat, karena terkendala dengan pakan. Saat ini, belum ada satu pun perusahaan pakan  ternak yang mendirikan usahanya di Sumsel, walaupun Sumsel disebut sebagai salah satu daerah dengan potensi pakan ternak terbesar di Sumatera.

“Pakan itu kunci, untuk pengembangbiakan ternak. 70 persen dari usaha peternakan itu, ada di pakan, tetapi sekarang Sumsel ini belum punya pabrik pakan walau sumber bahan pakan yang dibuat di pabrik Lampung itu banyak berasal dari daerah Sumsel,” kata Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Sumsel, Max Sulistyo ketika dibincangi, Jumat (11/4) di Griya Agung, Palembang.

Oleh karenanya, Max berharap melalui keberadaan feedlot sapi di Kabupaten Ogan Ilir (OI), kedepan akan ada investor di sektor pakan, yang mau masuk dan mengembangkan pakan. “Selain itu dengan feedlot ini diharap ketersediaan daging sapi di Sumsel dan sekitar khususnya bulan ramadhan, bisa terjaga,” harapnya.

Dari sisi potensi, Max menyebut areal perkebunan khususnya sawit merupakan salah kunci utama tersedianya pabrik pakan, khususnya konsentrat bagi usaha penggemukan sapi. “Yang diperlukan itukan bungkil sawitnya, untuk diolah menjadi pakan. Tetapi sayang, sekarang sepertinya belum sepenuhnya sejalan dengan pihak perkebunan,” jelasnya.

Meski begitu, Max mengakui jika pihaknya hingga kini belum memiliki sentra utama penggemukan sapi. Pasalnya dari penilaian yang dilakukan oleh pihaknya, keberadaan sapi saat ini masih belum terlalu merata.

“Sapi memang  banyak di Kabupaten OKU Timur, Lahat, Mura dan lainnya, tetapi itu tidak merata atau di kabupaten itu, hanya beberapa kecamatannya saja yang populasinya banyak,” ungkapnya.

Disinggung mengenai ketersediaan atau populasi sapi di Sumsel, menurutnya saat ini ada sekitar 250-260 ekor sapi di Sumsel, dengan komposisi 35 persennya merupakan sapi betina usia produktif. “Tetapi memang pemotongan sapi betina produktif ini, kita akui masih ada hingga saat ini,” ujarnya.

Max juag menyebut, Sumsel hingga kini belum memiliki perda yang mengatur tentang pelarangan pemotongan sapi betina khususnya yang berusia produktif. “Salah satu upaya yang pernah ada, memberikan reward bagi para petani. Tetapi mulai tahun ini, sepertinya tidak lagi terdengar. Karena ini dialokasikan oleh pemerintah pusat melalui dana bansos APBN,” tukasnya.

 

Teks     : IMAM MAHFUZ

Editor    : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster