Siapa Peduli Dongeng?

 223 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

PALEMBANG – Budaya mendongeng mulai tergusur oleh kemajuan teknologi dan sempitnya kesempatan yang dimiliki oleh orangtua karena kesibukan bekerja. Maka sungguh malang nasib anak-anak zaman sekarang yang tidak dapat merasakan kehangatan kebersamaan dalam suasana mendongeng yang sungguh menyenangkan. Mungkin ada diantara orangtua yang menganggap remeh mendongeng.

Dengan menceritakan tokoh-tokoh besar maka anak juga akan tergugah untuk menjadi orang yang berjiwa besar. Melalui kisah para Nabi dan tokoh-tokoh teladan orang tua dapat menanamkan nilai-nilai dan ajaran agama. Mana yang diharuskan dan mana yang terlarang sesuai dengan ajaran agama kita masing-masing serta apa saja perbuatan yang disukai atau dibenci oleh Tuhan.

Mendongeng juga dapat mendorong perkembangan bahasa anak. Dari berbagai cerita yang didengar anak tentu banyak pula kata-kata yang ia dapatkan. Semakin banyak anak mendengar, semakin banyak pula kosa-kata yang dimilikinya.

Dengan penguasaan kosa-kata yang baik akan memudahkan anak untuk mengkomunikasikan apa yang ada di fikirannya. Secara tidak disadari melalui dongeng, anak juga belajar bagaimana menggunakan bahasa yang tepat dan sopan.

Misalnya, berbicara dengan orang dewasa tentu gaya bahasa maupun kata-kata yang diucapkan akan berbeda bila dibandingkan dengan bicara dengan teman seusianya. Ketika anak diminta menceritakan kembali kisah yang sudah didengar anak akan mengerahkan seluruh kemampuan verbalnya, mencoba menuangkan kembali cerita yang sudah ia dengar dengan gayanya sendiri.

Mendongeng memberi dampak yang sangat positif terhadap perkembangan kognitif anak. Kognitif terkait dengan kemampuan anak berfikir dan bernalar. Saat mendengar cerita anak mengasah kemampuan kognitifnya ketika menghubungkan berbagai peristiwa dalam suatu cerita, sambil mendengar jalannya cerita anak mncoba menerka-nerka apa yang terjadi seterusnya. Anak mendapat pengetahuan tentang berbagai hal yang sebelumnya tidak diketahuinya.

“Besarnya pengaruh mendongeng bagi kodisi kejiwaan anak maka orangtua harus selektif dalam memilih materi cerita,” Abdullah menambahkan.

Tidak semua buku cerita yang dijua dipasaran atau cerita  rakyat yang beredar dimasyarakat layak untuk dikisahkan. Pilihlah cerita yang menggugah semangat, menumbuhkan gairah dan kesenangan serta menumbuhkan percaya diri anak.

Sebaliknya, jauhkan anak dari cerita-cerita yang bertema negatif seperti kematian, kemelaratan, penyiksaan karena dapat mempengaruhi jiwa anak menjadi pesimistis yang dapat mengganggu perkembangan jiwanya hingga membuatnya menjadi pribadi yang tertutup dan terbelakang.

Ternyata banyak sekali manfaat yang didapat melalui mendongeng. Bagaimana dengan budaya mendongeng di rumah anda? syukurlah bila masih sering mendongeng.

Namun bila mulai memudar atau bahkan tidak pernah mendongeng  maka mulailah membiasakan dongeng sebagai pengantar tidur, dengan demikian akan terjalin ikatan emosional yang erat antara orang tua dan anak sehingga orang tua akan lebih mudah mengkomunkasikan nilai-nilai yang akan membentuk karakter anak menjadi peribadi yang ideal.

Bila sejak kecil anak sudah dekat dan akrab dengan orangtua akan memudahkan mereka mengungkapkan apa yang ada dibenaknya, sehingga anak tidak perlu lagi memendam sendiri masalah yang dihadapi karena mereka merasa nyaman bertukar fikiran dengan orangtuanya.

 

—Komentar–

Eddy Fahyuni Pelaku Seni Budaya

 

Memelajari dongeng seorang anak bisa dipupuk rasa percaya dirinya. Hal itu menurutnya tergantung pada pemilihan tema dan cerita yang terkandung dalam dongeng itu sendiri.

”Tema cerita akan memberikan kesan mendalam pada perkembangan anak selanjutnya,”ujarnya.

Edy Fahyuni, seniman di kota ini menyebutkan, salah satu penyebab hilangnya cerita tradisional dari hati anak-anak adalah kurangnya orang tua mendongeng kepada anak-anaknya.

Padahal dahulu saat perkembangan teknologi belum semaju sekarang, mendongeng seolah menjadi budaya dikalangan orang tua. Sudah menjadi kebiasaam bagi orang tua untuk membacakan cerita Si Kancil, atau Timun Mas sebelum anaknya tidur. Walaupun cerita dalam dongeng tersebut fiktif, namun kesan yang ditimbulkannya bisa menciptakan daya fantasi anak.

”Akibatnya anak menjadi sangat menyukai dongeng dan cerita fantasi tersebut,”ujarnya.

Kata Eddy, selain itu dongeng juga berfungsi sebagai sarana ‘pengembaraan’ anak. Sebab dengan mendengar dongeng, fantasi dan daya cipta anak akan mengembara sesuai alur cerita dalam dongeng. Saat itulah biasanya unsur pendidikan dan pembinaan moral dapat ‘disusupkan’ dalam benak anak-anak.Beberapa sifat yang selalu dimiliki tokoh-tokoh pembela kebenaran dalam dongeng adalah jujur, cinta kasih, adil, dan bersahabat.

“Sifat-sifat tersebut jarang terdapat dalam cerita modern yang umumnya berasal dari luar negeri. Sebab seringkali unsur tersebut dikalahkan oleh fabtasi kekuatan dan kesaktian yang justru membuat anak menjadi lupa pada perbuatan saling menyayangi dan menghormati orang lain,” ungkapnya.

 

TEKS      : AHMAD MAULANA

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster