Majikan Perbudakan Tak Bayar Gaji Full

 220 total views,  2 views today

KAYUAGUNGEnam orang pekerja yang diduga  menjadi korban perbudakan oleh sang majikan Hj Maimunah di toko miliknya. Tidak menuntut banyak atas kelakuan sang majikan terhadap mereka selama bekerja. Mereka hanya minta gadi dibayar.

Mereka hanya ingin meminta gajinya selama bekerja dibayarkan karena sangat membutuhkan uang tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Demikian dikatakan Wahyudi salah seorang dari lembaga bantuan hukum yang mendampingi mereka.

Mereka yang belum menerima gaji diantaranya dua orang yang lebih dari 12 bulan bekerja, dan empat pekerja lainnya selama 6 bulan selama belerja gaji belum dibayarkan oleh Hj Maimunah.

Sikap keras dan arogan yang ditunjukkan Hj Maimunah membuat para pekerja tersebut sampai saat ini masih trauma bila harus dipertemukan dengan sang majikan. Sehingga untuk memediasi permasalahan ini keenam pekerja meminta bantuan pihak kepolisian dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertran) OKI, agar Hj Maimunah sadar akan kesalahannya dan segera membayarkan hak para pekerja.

“Saya kira sudah cukup penderitaan para korban, selama bekerja mereka dalam tekanan, alat komunikasi di sita, jam kerja yang tidak wajar mulai dari pukul 07.00 – 00.00 WIB,  bahkan tidak jarang mereka mendapatkan tindakan kekerasan,” ungkapnya.
Selama bekerja memang beberapa korban ada yang kasbon dengan sang majikan, ada yang kasbon Rp 50 ribu dan ada yang sampai diatas Rp 1 juta, nanti jika mendapat gaji akan dipotong kasbon. Riski Wulandari, bekerja selama 6 bulan Rp 6 juta,sama sekali belum terima gaji.

Yulistianti, bekerja sebagai pembantu rumah tangga 12 bulan Rp 12 juta, belum terima gaji. Tasya Adelia, bekerja 6 bulan Rp 6 juta belum terima gaji. Eka Oktaviani, kerja 6 bulan Rp 6 juta belum terima gaji, Umaidah, bekerja 12 bulan Rp 12 juta belum terima gaji dan Triyani bekerja 6 bulan Rp 6 juta, belum terima gaji.

Kondisi psikologis para korban menurut Wahyudi, saat ini sudah membaik karena sudah berkumpul bersama keluarga mereka di Tulang Bawang Lampung, tetapi disisi lain para korban ini masih trauma akibat tekanan yang dialaminya saat ini.

“Apalagi sampai saat ini HP, ATM dan Ijazah milik korban masih tertinggal di rumah Hj Maimunah,” ungkapnya.

Terakhir kalinya, para korban mendapat informasi dari Hj Maimunah jika gaji mereka akan dibayarkan tetapi tidak full, jika sesuai kontrak gajinya Rp 1 juta/bulan, Hj maimunah hanya akan membayarnya Rp 800 ribu/bulan, bahkan masih akan dipotong lagi, dengan barang-barang yang selama ini di berikan secara cuma-cuma oleh Hj Maimunah kepada para korban, seperti baju, sandal, dan lain-lain akan dianggap sebagai kasbon.

“Informasi yang kita terima dari Disnaker, bahwa Hj Maimunah akan segera membayarkan gaji para korban tetapi tidak full, jika janji awal Rp 1 juta/bulan, maka akan di potong menjadi Rp 800 ribu/bulan, bahkan masih akan diptong lagi dengan masing-masing kasbon dan barang-barang yang di kasih selama ini akan dianggap sebagai kasbon, hal ini akan kita bicarakan lagi dengan Disnaker,” jelasnya.

Sementara itu Hj Maimunah, yang berkarakter keras ini tetap bersikeras akan membayarkan gaji para pekerja itu Rp 800 ribu/bulan, belum dipotong kasbon, walaupun sebelumnya  janji akan gaji Rp 1 juta/bulan.

“Karena balasan mereka malah mencemarkan nama baik saya, tidak tahu diri, sudah diberi makan, tempat tinggal, tetapi memfitnah saya, maka gajinya akan saya bayar Rp 800 ribu/bulan, itu masih akan dipotong kasbon mereka  Rp 50 sampai Rp 3,5 juta, kemudian barang-barang seperti baju sandal dan lain-lain yang sudah saya kasih, maka akan saya anggap sebagai hutang, saya sudah sakit hati dengan mereka, mengenai HP dan barang-barang yang masih tertinggal silahkan diambil semuanya ada di rumah,” ujarnya dengan nada keras.

Sementara itu Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten OKI Amirudin melalui kasi perburuan dan pengawasan tenaga kerja Jalaludin, kemarin,  mengakui jika karakter Hj Maimunah orangnya keras.

“Saat saya datang ke toko sepatu miliknya, saat kita ajak bicara baik-baik dia selalu membantah dengan nada yang agak keras, dia tidak sadar bahwa banyak pelanggaran undang-undang tenaga kerja yang dilakukannya, tetapi dia tetap bersi keras dan selalu memotong pembicaraan saya,” ujarnya.
Pihak Disnaker akan melakukan panggilan kepada Hj Maimunah untuk menjalani pemeriksaan di Disnaker OKI. Jika panggilan pertama, kedua dan ketiga tidak diindahkan maka bis adijemput paksa, masalah gaji yang akan dibayarkan Rp 800 ribu/bulan sudah sampaikan kepada korban, sepertinya para korban akan menerimanya, tetapi masih akan dipertimbangkan lagi terkait potongan-potongan dari barang-barang pemberiannya yang akan dijadikan kasbon,” kata Jalal.

Menurut pria berkumis tebal ini, pada hari Senin, (hari ini -red) nanti akan ada mediasi antara Hj Maimunah dengan pendamping korban, terkait pembayaran gaji.

 

TEKS      : DONI AFRIANYAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster