Korban Perbudakan Kini Bebas

 226 total views,  6 views today

KAYUAGUNG – Derai air mata membasahi pipi sebagai ungkapan rasa syukur keenam korban perbudakan oleh sang majikannya Hj Maimunah. Selama bekerja dibawah tekanan akhirnya mereka kini bebas menghirup udara segar dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya masing-masing. Kantor SPK Mapolres OKI, menjadi saksi bisu pertemuan mereka dengan keluarga yang diiringi isak tangis kerinduan yang mendalam.

Riska Wulandari salah satu dari enam pekerja yang menjadi korban perbudakan. Mengucap syukur Alhamdulillah, karena bisa keluar dari rumah majikannya. Dari pengakuan gadis belia yang berumur 18 tahun ini. Selama bekerja dengan Hj Maimumah tekanan batin ia rasakan, sebagai seorang muslim dia tidak diperkenankan untuk menunaikan ibadah sholat.

Sungguh kekejaman yang luas biasa dia rasakan selama bekerja. Kendati telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang pekerja, namun sang majikan tak kunjung menunaikan kewajibannya untuk menghagai peras keringatnya yang selama ini dia keluarkan sesuai perintah sang majikan.

“Kami bekerja disana sangat tertekan, kami harus bangun jam 04.00 WIB, kalau kami terbangun pada pukul 05.00 itu sudah dianggap oleh Hj Maimunah sudah kesiangan bangunnya, dan bekerja di tokonya pulang sampai pukul 21.00, sampai ke rumah kami belum bisa tidur,kami harus memijat majikan, hingga jam 12 malam baru bisa tidur” ujarnya sambil menangis.

Nasib Riski sedikit lebih beruntung karena tidak merasakan penganiayaan dari majikannya. Bedah dengan apa dialami Tasya Adelia, gadis bertubuh subur ini, pernah mendapat penganiayaan dicekik dan dipukul dengan sepatu oleh Hj Maimunah karena dianggap mau membantu temannya kabur dari tempat kerja.

Untuk makan yang diberikan oleh sang majikan pun mereka mengatakan sangat tidak manusiawi. Beras satu canting yang ditakari setiap hari oleh majikan untuk makan berenam. Itupun untuk bisa mengisi perut mereka, masih harus dimasak terlebih dahulu.

“Kami masak sendiri beras itu, baru bisa dimakan,” ungkap Tasya.
Tak pelak, atas kejadian yang mirip dengan kediktatoran Westerling saat menjajah Indonesia, keenamnya masih trauma jika harus dipertemukan lagi dengan sang majikan Hj Maimunah, pemilik toko sepatu sabahat Tugumulyo, Kecamatan Lempuing, OKI.

“Kami masih trauma dengan kejadian itu, dalam hidup ini pengalaman pahit itu cukup sekali ini saja terjadi,” ungkap Eka Oktaviani dan Umaidah, Triyani dan Sulistianti keempat korban perbudakan lainnya yang menuturkan sangat bersyukur bisa bertemu lagi dengan keluarga di Tulang Bawang Barat, Lampung, yang selama ini hilang komunikasi lantaran HP mereka diambil majikan.
Kendati sudah bebas dari belenggu sang majikan, namun mereka masih berharap upah dari setiap tetes keringat yang mereka keluarkan selama setahun lebih bekerja bisa dibayarkan oleh sang Majikan, melalui mediasi pihak pemerintah.

“Kami masih berharap gaji dibayarkan, karena kami butuh uang itu. Walaupun kami pernah diperlakukan tidak manusiawi selama bekerja,” pintanya.

 

TEKS      : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster