Kemiskinan itu Dipolitisir

 185 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

PALEMBANG – Pemerintah sudah mengucurkan program kompensasi kenaikan atas bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Berbagai program seperti Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Program Keluarga Harapan (PKH), dan berbagai program lainnya di lakukan pemerintah.

Namun berbagai program tersebut, dinilai Ketua Umum Pusat Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (PP ISNU), Ali Masykur Musa saat Diskusi Panel Ahli ISNU II di Kantor PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu  tak lebih dari politisisasi terhadap warga miskin.

Program itu pun dinilainya menistakan harkat kemanusian.  “Pelaksanaan  program-program variatif anti-kemiskinan seperti BLT, raskin dan Jamkesmas yang jumlahnya belasan triliun, pelaksanaannya sering menistakan harkat kemanusiaan masyarakat sebagai warga negara,” kritiknya.

Bagaimana di Sumsel ?, Menjelang Pemilihan Umum Legislatif (Pileg), banyak calon anggota legislatif (caleg), yang menjanjikan kesejahteraan. Berbagai janji mereka tawarkan, untuk memikat simpati masyarakat.

Pantauan Kabar Sumatera, sejumlah spanduk milik caleg yang terpasang di beberapa sudut kota seperti di kawasan Jalan Bay Salim, Jalan Let Simanjuntak, dan beberapa kawasan lainnya, sejumlah caleg mengaku akan mensejahterakan masyarakat.

Seperti salah satu spanduk, milik caleg partai besar yang terpasang di kawasan Sekip Palembang, yang bertuliskan “berjuang untuk mensejahterakan masyarakat” atau salah satu spanduk milik salah satu caleg yang bertuliskan jika terpilih akan berjuang membuka lapangan kerja, menurunkan harga sembako dan lainnya.

Tak hanya program, mereka pun mulai mendekati masyarakat dengan menawarkan berbagai bantuan mulai dari perbaikan jalan kampung, bantuan beras, ambulance gratis dan sebagainya.

Pengamat politik, Joko Siswanto menilai hal tersebut suatu yang sah-sah saja. “Namun masyarakat lah yang harus pintar melihatnya. Kadangkala itu, tak lebih sekedar janji belaka,” ucapnya.

Joko menilai, banyak caleg masih mengandalkan cara-cara konvensional untuk mendekatkan simpati masyarakat. Misalnya, dengan mempolitisasi kemiskinan dengan menjanjikan kesejahteraan dalam spanduk, baleho yang mereka pasang.

Pendapat senada diungkapkan pengamat sosial dari Universitas Sriwijaya (Unsri), yang dibincangi beberapa waktu lalu. Menurutnya, banyak caleg akan menghalalkan segala cara, untuk mendapatkan simpati masyarakat.

“Mereka (caleg) tentu akan berusaha mendapatkan simpati masyarakat, salah satunya dengan memberikan berbagai bantuan dan fasilitas. Namun itu hanya dilakukan saat menjelang Pileg saja, setelah itu dilupakan,” kritiknya.

Karenanya ia menyarankan masyarakat terutama masyarakat miskin, untuk pandai-pandai menggunakan hak pilihnya. “Jangan terjebak dengan janji, atau dengan bantuan yang diterima sesaat. Sebelum memilih, sebaiknya lihat track record calon tersebut,” tukasnya.

 

TEKS      : DICKY WAHYUDI

EDITOR    : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster