Yang Haram Yang Kalah

 166 total views,  2 views today

PALEMBANG – Prof.Dr.H.Amin Suyitno,MA kepada Kabar Sumatera, menyebutkan, untuk melakukan pencerdasan politik, selain harus melalui pendekatan agama, juga mengedepankan moral politik dan etika politik.

“Modal politik itu bicara kejujuran dalam politik. Tetapi, yang menjadi slogan selama ini selalu mengatakan; kalau di politik semuanya sah,  yang haram hanya kalah. Yang lain halal semua. Kalau paradigma seperti ini yang berkembang, iklim politik kita menjadi  rusak,” tegas Pembantu Rektor III IAIN Raden Fatah Palembang ini.

Terpisah, Julian Juniaidi, salah satu pemerhati budaya di Sumsel menyebutkan, membangun kultur demokrasi di daerah maupun nasional, dihadapkan berbagai tantangan yang cukup besar.

Kata penyair di Sumsel ini, politik uang yang berkembang di dalam Pemilukada, Pileg dan Pilpres, tentu akan merusak budaya demokrasi yang sedang dibangun. Menurutnya, politik uang merupakan menifestasi dari cara berpikir pragmatisme dalam kehidupan politik. Budaya pragmatisme yang berasal dari filsafat Amerika ini, sangat berbahaya bagi kelangsungan demokrasi yang sedang dibangun bangsa Indonesia. Di lain sisi, kita juga menyaksikan bentuk lain dari pragmatisme seperti tampak pada politik transaksional. Bahaya politik transaksional ini adalah elit politik dengan gampang mengabaikan kepentingan rakyat atau kepentingan konstituennya.

Tantangan lain dalam membangun kultur demokrasi, kata Julian Junaidi, adalah budaya patronase yang memang telah menjadi bagian dari budaya bangsa kita. Sebab, budaya patronase ini tampak dari budaya paternalistik yang hidup di dalam masyarakat kita.

Dalam budaya patronase ini dimana masyarakat lebih mengedepankan atau menghormati sosok atau figur yang kuat, sehingga melahirkan pendewaan terhadap pemimpin. Budaya pendewaan terhadap pimpinan yang kuat atau pengkultusan terhadap pemimpin akan mematikan prinsip dialog yang merupakan bagian penting dari proses demokrasi itu sendiri, bahkan cenderung terbangunnya komunikasi paternalistik yang satu arah, bahkan prinsip demokrasi seperti check and balance tidak akan berjalan bila terjadi pengkultusan terhadap pemimpin.

Lanjut Julian, di dalam persaingan politik di masyarakat politik kita tumbuh budaya politik seperti “zero sum political game”. Dalam arti, persaingan politik di dalam memenangkan calon yang diusung dalam pilkada kerap diwarnai dengan sikap  “zero sum political game” atau sikap politik hitam-putih, dimana lawan politik  dipandang musuh. Sikap politik seperti ini mendorong pihak pemenang dalam suatu pilkada akan menghabisi lawan-lawan politiknya yang menduduki posisi strategis.

“Dengan demikian, kompetisi politik bukan dipandang sebagai upaya memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara, melainkan dilihat dalam arti sempit. Kondisi ini tentu saja bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi, seperti menghormati perbedaan sikap atau pilihan politik,” ujarnya.

 

TEKS        : RINALDI SYAHRIL

EDITOR      : IMRON SUPRIADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster