“Kelas Kami Buruk dan Berdebu”

 268 total views,  2 views today

suasana kelas SDN 15 Tanah Abang

suasana kelas SDN 15 Tanah Abang

PALI – Langkah Revaldo, pelajar kelas 5 SDN 15 Tanah Abang, bergerak dengan lincah. Penuh semangat ia menunjukkan kelas yang sudah dua tahun ditinggalkannya. Dengan lincah juga ia membuka pintu yang dikunci dari dalam. Badannya yang mungil memudahkan dirinya menerobos lubang bekas kepingan papan yang lepas. Dalam sekejap pintu itu terbuka.

“Masuklah mang. Kelas kami buruk dan berdebu,” ujarnya dengan dialek khas Tanah Abang.

Saat Kabar Sumatera masuk ke ruangan kelas. Debu yang berasal dari semen lantai pun berterbangan disapu langkah kaki Rivaldo dan teman-temannya.

“Kami tidak memakainya lagi. Kata guru kalau belajar disini (ruangan), nanti kami sakit batuk,” jelas Adi dengan lugu.

Bangunan yang terdiri dari tiga ruang kelas itu nampak kosong. Tidak ada meja belajar atau kursi. Lantai semen nampak sudah hancur menyisakan debu-debu yang berterbangan saat kaki melangkah. Tidak ada plafon. Beberapa kusen tampak baru selesai diganti. Ditandai bekas semen yang mengelilingi kusen.

“Sudah setahun terakhir, kami tidak lagi menggunakannya pak. Tidak tahan dengan debu semen dari lantai,” kata, Desi Nursanti SPd, guru Kelas 5.

Menurut guru yang sudah mengajar sejak 2008 lalu itu, kejadian bermula saat pihak Dinas Pendidikan Muara Enim melakukan rehab terhadap ruangan tersebut pada 2010 lalu. Entah kenapa, kontraktor yang mengerjakannya tiba-tiba menghilang. Dan meninggalkan gedung yang setengah jadi itu.

Merasa membutuhkan ruangan untuk belajar, pihak sekolah menggunakan ruangan setengah jadi itu untuk digunakan kegiatan belajar mengajar. “Semuanya kan ada enam kelas, tidak bisa tidak ruangan itu kami gunakan,” jelas Desi.

Baru digunakan beberapa bulan, seluruh semen dilantai sudah pecah-pecah. Bila anak-anak berjalan atau ada tiupan angin, debu-debu pun beterbangan memenuhi ruang kelas.

“Kami tidak tahan dengan debunya. Akhirnya kami putuskan untuk minggat dari ruangan itu. Karena disini cuma ada tiga ruangan, terpaksa ada yang masuk pagi dan ada yang masuk sore,” tambah Desi.

Kini, sebanyak  252 siswa di SDN 15 Tanah Abang di Desa Sedupi Kecamatan Tanah Abang terbagi dalam dua shift. Kelas 1-3 sekolah pagi dan kelas 4-6 sekolah siang hari mulai pukul 13.00 siang.

Kini, Desi dan Kepala sekolah M Baslin berharap, dengan terbentuknya Kabupaten PALI yang memisahkan diri dengan Muara Enim dapat memperbaiki ruang kelas tersebut. “Harapan kami ruangan itu direhab lagi. Minimal lantainyo disemen lagi dan dikasi meja-kursi. Yang penting biso dipakai anak-anak belajar,” harap Desi.

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten PALI, Drs M Amin MM melalui Kabid Sarpras Drs Yulnadi MSi memastikan bahwa gedung SDN 15 Tanah Abang itu sudah masuk perencanaan untuk dilakukan renovasi.

“Sudah kita anggarkan untuk diperbaiki. Kepada masyarakat, mohon bersabar dulu. Nanti pasti kita perbaiki sehingga anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” jelas Yulnadi.

 

Teks       : Indra Setia Haris

Editor       : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster