Guru Sertifikasi Kelabuhi Absen dan Kewajiban

 205 total views,  4 views today

KAYUAGUNG – Trik licik bisa dilakukan oleh para pendidik yang tidak jujur, untuk memenuhi kewajiban tunjangan sertifikasinya salah satunya memanfaatkan jasa guru honor untuk menggantikan jam mengajarnya dengan diberikan imbalan sebagai tanda terima kasih. Akal-akalan ini sudah menjadi rahasia umum. Karena dilihat sama-sama menguntungkan. Baik guru sertifikasi merasa terbantu atas jasa si guru honor, maupun guru honor mendapat imbalan dari jasanya.

Malasnya para guru sertifikasi yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik, yakni mengajar selama 24 jam perminggu. Hampir terjadi di setiap sekolah. Hal hal ini dikatakan Hari Putera, Ketua LSM Lembaga Pemantau Kebijakan Badan Publik Bidang Investigasi. Menurut dia, berdasarkan data hasil investigasi yang dia dapat, menyebutkan kondisi malasnya guru sertifikasi yang tidak memenuhi kewajibannya, hamper terjadi di setiap kecamatan di wilayah Kabupaten OKI, seperti wilayah UPTD Pedamaran, Tanjung Lubuk, SP Padang, Teluk Gelam dan lain sebagainya.

“Itu baru sebagian yang saya sebutkan, masih banyak lagi,” cetusnya, Rabu (2/4).

Ia berkata, terjadinya praktek kotor tidak jujur ini, akibat lemahnya pengawasan internal struktur UPTD di setiap kecamatan. Bahkan tak menapik ada dugaan pihak UPTD dan kepala sekolah sengaja membiarkannya. Karena memalui praktik ini mereka sama-sama diuntungkan.

Cara kerjanya terbilang cukup rapi, dengan memanfaatkan tenaga honorer yang dibayar oleh oknum guru sertifikasi untuk menggantikan kawajiban mengajarnya. Dengan alasan yang bersangkutan sakit. Namun faktanya absensi guru yang bersangkutan juga ikut ditanda tangani seolah-olah hadir setiap hari. Sungguh perbuatan tercela!.

Mengaitkan dengan hukum atas perbuatan oknum guru yang bersangkutan. Lanjut dia, perbuatan tersebut telah memenuhi unsure tindak pidana pasal 11 undang-undang tindak pidana korupsi nomor 31 tahun 1999 Jo UU nomor 21 tahun 2001.

“Setiap orang atau PNS dengan maksud atau sengaja merusak data, atau memalsukan data untuk kepentingan pemeriksaan administrasi, sehingga dengan perbuatan tersebut merugikan keuangan negara,” ujarnya.

Pernyataaan Hari Putera, tersebut diamini salah satu tenaga pendidik di Kabupaten OKI, yang namanya tidak mau disebutkan, praktek kotor yang dilakukan para guru sertifikasi bukan isapan jempol belaka. Sebagai orang yang berkarir di dunia pendidikan selama bertahun-tahun membenarkan adanya hal tersebut.

Cara kerjanya sama seperti yang diterangkan Hari tersebut dengan membayar jasa guru honor.

“Ya mereka bayar guru honor,” katanya.

Menurut dia cara kerja ini sulit dibasmi lantaran UPTD sebagai lembaga perpanjangan tangan Dinas Pendidikan di setiap kecamatan diduga menuruti praktek ini termasuk kepala sekolahnya sehingga tidak akan diketahui.

“Untuk besaran upah yang diberikan oleh guru sertifikasi kepada guru honor itu hanya uang tanda terima kasih yang pemberiannya bersifat pribadi.  Sementara UPTD juga kebagian duit dari para guru sertifikasi tersebut saat tunjangan mereka  cair, sebagai pemberian pribadi. Jadi mereka merasa tidak enak melaporkan kebusukan guru sertifikasi yang ada di wilayahnya masing-masing,” terangnya.

Bukan hanya guru sertifikasi saja yang tidak memenuhi kewajibannya, melainkan juga para guru yang ditugaskan sebagai pengawas berserfikasi yang banyak melanggar aturan. “Seharusnya satu orang pengawas harus mengawasi sepuluh sekolah, namun contohnya untuk di Kecamatan Pedamaran tidak sampai 10 sekolah, Nah inikan menyalahi aturan namun oleh UPTD sepertinya ditutupi,” ungkapnya sambil berucap salah satu contoh sekolah yang ada oknum guru sertifikasi jarang mengajar adalah di SDN 5 Pedamaran dan di SDN 2 Pedamaran.

Adapun dari pemberitaan sebelumnya, mengenai dugaan oknum guru sertifikasi yang jarang menjalankan kewajibannya adalah BR, oknum guru di SDN 2 Sukaraja Pedamaran. Namun kondisi ini sepertinya ditutupi oleh kepala sekolahnya yang diduga takut melaporkan anak buahnya.

Sementara Kepala UPTD Pedamaran, Rosita, mengatakan, BR memang dulu selama tiga bulan hanya tercatat 9 hari tidak hadir. Namun kata Rosita, setelah itu dia sudah aktif kembali mengajar menjalankan kewajibannya.

 

TEKS     : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster