Banyak Situs Tak Terawat

 274 total views,  2 views today

candi-tanah-abang-2

Ilustrasi Jurnalis Kabar Sumatera Berfoto diSalah Satu situs Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Candi Tanah Abang) | Foto : Indra SH

PALEMBANG – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel mengeluhkan minimnya anggaran di dinas tersebut, hingga menyebabkan mereka kesulitan menginventaris peninggalan kebudayaan yang ada di Sumsel. Akibatnya, banyak bukti peninggalan khususnya zaman Kerajaan Sriwijaya yang tidak terawat.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disbudpar Sumsel, Ahmad Najib mengatakan, 23 situs yang membuktikan keberadaan pemerintahan Sriwijaya di Sumsel, akan diinvetaris ulang oleh pemprov, dengan melibatkan para ahli dan pakar dibidang ini.

“Menurut arkeolog, ada 23 situs yang membuktikan pemerintahan Sriwijaya ada di sini. Tapi seluruhnya belum terawat, dan itu kita akui. Jadi kita mulai inventarisir semuanya dengan para ahli, sebagai bentuk perlindungan peninggalan sejarah,” kata Najib yang juga menjabat Asisten III bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemprov Sumsel, kemarin.

Lanjutnya, Disbudpar Sumsel akan mengajak Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengatasi kendala dana dalam inventaris dan perlindungan bukti sejarah. Termasuk perlindungan dari alih fungsi, di mana rencana pemanfaatan wilayah yang masuk dalam situs akan dibatasi.

“Tak hanya benda, tempat yang memuat bukti sejarah juga harus terlindungi. Jangan sampai tempat-tempat itu beralih fungsi. Maka pemanfaatannya harus terbatas, selain mencegah pengrusakaan peninggalan bukti sejarah,” ucapnya.

Beberapa benda bersejarah juga akan diinventaris oleh Disbudpar Sumsel demi mencegah kerusakan dan hilang, seperti yang pernah terjadi pada awal tahun 2014, di mana sebanyak 30 tempat membakar dupa (Hio) berusia sekitar 3.000 tahun hilang.

Hio yang terbuat dari kuningan itu tersimpan di Rumah Induk Kampung Kapiten. Barang yang hilang itu terdiri dari 27 wadah dupa dari kuningan, 1 wadah garu kuningan, serta 2 buah wadah lilin dari timah.

“Semoga yang seperti itu tidak terjadi lagi. Makanya, setelah inventaris selesai, kalau perlu kita kumpulkan di satu tempat biar tidak ada yang hilang. Benda-benda bersejarah itu punya nilai yang tinggi,” terangnya.

TEKS          : IMAM MAHFUZ

EDITOR        : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster