Pasangan Jokowi – Ryamizard Mungkinkah?

 350 total views,  2 views today

Ilustrasi Jokowi dan Rizamizard | Dok KS

Ilustrasi Jokowi dan Rizamizard | Dok KS

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI baru akan dilakukan setelah Pemilihan Legislatif (pileg) 9 April 2014. Tetapi berbagai spekulasi pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) 2014 mulai bergulir. Salah satunya yang dimunculkan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Aspirasi Rakyat untuk Pemimpin Nasional (ARPN) di Jakarta, yang sore kemarin, Jumat (28/3) berkunjung ke Harian Umum Kabar Sumatera (KS).

———————————————–

Pokja ARPN yang merupakan wadah warga Sumsel di Jakarta hingga kemarin sudah mulai menggulirkan wacana pasangan Jokowi-Ryamizard Ryacudu sebagai Capres-Cawapres RI pasca SBY.

Meskipun dinilai oleh sejumlah pihak, memunculkana pasangan Jokowi-Ryamizard tidak masuk dalam peta survei Indonesia dan terlalu spekulatif. Namun gagasan memadukan pasangan Jokowi-Ryamizard Ryacudu, mantan Pangdam II Sriwijaya ini, sebagai Capres-Cawapres 2014 tetap saja digulirkan oleh warga Sumsel di Jakarta.

Syahrul Senan, SH, salah satu pegiat Pokja ARPN kepada KS menjelaskan, Pokja ARPN ini merupakan ihtiar sekaligus menampung aspirasi warga Sumsel di Jakarta, yang sudah beberapa bulan ini, membuat wacana pasangan kemungkinan Jokowi- Ryamizard sebagai Capres dan Wapres 2014.

Syahrul menjelaskan, wacana ini dimunculkan, sebagai bentuk empati warga Sumsel terhadap Ryamizard yang sebelumnya sudah banyak mengaryakan diri di Sumsel sebagai Komandan Korem Gapo di Palembang dan Pangdam II Sriwijaya beberapa waktu lalu.

Melihat rekam jejeknya sebagai sosok prajurit TNI, menurut Syahrul, Ryamizard merupakan salah satu purnawirawan TNI yang sangat layak jika nantinya menjadi Wapres RI mendampingi Jokowi. “Warga Sumsel melihat, Pak Ryamizard punya rekam jejak yang baik. Apalagi dalam setiap kesempatan beliau selalu mengau dirinya benar-benar prajurit murni yang tidak terjun dalam dunia politik. Jadi menurut kami dan warga Sumsel di Jakarta, netralitas yang selama ini menjadi sikap politik Pak Ryamizard yang tetap menjadi tentara sejati, memperkuat peluang Pak Ryamizard sangat layak mendampingi Jokowi,” ujarnya.

Kalau melihat dari sisi bibit, bebet dan bobot (kualitas), menurut Syahrul, Ryamizard bukan sosok yang diragukan. “Siapa sekarang yang tidak tahu dengan kualitas Pak Ryamizard. Dari sisi bibit, bebet dan bobot, beliau punya garis yang jelas. Beliau mantan Danrem Garuda dempo di Palembang, juga mantan Pangdam II Sriwijaya. Bahkan beliau adalah menantu Jenderal Purnawirawan Try Soetrisno, mantan Wapres di era Soeharto. Jadi menurut kami Par Ryamizard sangat layak disandingkan dengan Jokowi. Jika ini disetujui, sekaligus untuk memperkuat dari sisi keamanan dan kemanan di negerin ini. Pak Jokowi latar belakangnya sipil, dan harus berpadu dengan sosok berlatar belakang TNI, supaya terjadi keeimbangan dalam mengawal bangsa ini ke depan,” tegas Syahrul.

Paduan Jawa – Non Jawa

Menanggapi hal itu, Dr Tarech Rasyid M.Si, pengamat sosial dan politik di Sumsel mengatakan, wacana Pokja ARPN itu menurutnya, boleh saja digulirkan. Tetapi yang harus dicatat adalah, bagaimana Pokja ARPN juga harus melakukan survei terhadap elektabilitas sosok Ryamizard. Menurut Tarech, sosok Ryamizard dalam konteks popularitas masih bisa masuk. Tetapi bagaimana elektabilitasnya masih diperlukan survei. “Tujuannya untuk mengukur bagaimana kemungkinan dan kekuatan pasangan Jokowi-Ryamizard,” yang juga Koordinator Sekolah Demokrasi Prabumulih,

Namun demikian, Tarech mengakui jika kemudian Megawati meyetujui usulan pasangan ini, tidak lepas dari sejarah sebelumnya, ketika di akhir periode Megawati menjabat presiden, Jenderal Ryamizard ketika itu sudah mendaoat jatah kursi Panglima. “Tetapi ternyata di tangan SBY, posisi itu digantung sampai akhirnya Ryamizard pensiun,” ujarnya kepada Kabar Sumatera (KS), saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Jumat (28/3).

Lebih lanjut doktor lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini menegaskan, secara track record, Ryamizard sosok jenderal yang nyaris tidak punya “cacat” sebagaimana TNI lain.  Tarech menyebutkan, ketika Prabowo dan Wiranto naik ke permukaan sebagai Capres, sangat banyan serangan yang terkait dengan kajahan HAM. “Tapi Ryamizard sampai hari ini sepengetahuan saya, tidak pihak luar negeri atau dari dalam negeri yang menyerang dengan kasus-kasus HAM sebagaimana Prabowo dan Wiranto,” ujarnya.

Menurut Tarech gagasan memadukan Jokowi-Ryamizard, secara politik menjadi strategi menguatkan kepemimpinan yang menggunakan sistem presidensiil. Sebab menurut Tarech, melihat pengalaman sebelumnya, nyaris tidak ada kepemimpinan kuat yang mamadukan presiden dan wakil yang berasal dari latar belakang sipil. “Lain halnya di era Soekarno-Hatta. Keduaa tokoh itu memiliki kekuatan dan didukung kondisi politik pada saat itu. Situasi politik dan ketokohan Soekarno-Hatta ketika itu tidak kita temukan di era sekarang,” tegasnya.

Bila kemudian menilik sejarah, kalaupun pasangan ini akan dimunculkan, menurut Tarech sebagai bentuk upaya mengembalikan sejarah ketika masa kemerdekaan RI tahun 1945 (Soekarno-Hatta). Paduan Jokowi-Ryamizard menurutnya, sebagai perpaduan presiden dan wakil presiden jawa dan non jawa. “Saya pikir, kalau memang pasangan ini akan disetujui oleh Megawati, ada upaya kearah itu, menciptakan satu kekuatan dan kesatuan antara jawa dan non jawa,” tambahnya.

Satu hal yang perlu menjadi catatan, menurut Tarech jika pasangan ini benar-benar akan diusung menjadi Capres-Cawapres, akan melahirkan dua sosok yang memiliki karakter kepemiminan berbeda. “Jokowi dengan gayanya sipil, sementara Ryamizard dengan gaya tentara,” ujarnya.**

 

TEKS : AHMAD MAULANA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster