Potret Kusam Pendidikan Kita

 234 total views,  2 views today

Ahmad-Maulana

Oleh  Ahmad Maulana

(Penulis adalah Jurnalis di Palembang)

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia mungkin hal yang klasik, usang dan menjenuhkan. Sebab berbincang pendidikan di negeri ini, siapapun akan mengatakan ribet atau bahkan membosankan. Alih-alih diperdebatkan, semuanya selalu bermuara pada kebijakan sistem pendidikan kita yang tidak konsisten dan selalu berganti-ganti.

Kesan yang mengemuka, seolah sistem pendidikan kita menjadi ajang percobaan kurikulum dari satu penguasa (rezim) ke penguasa berikutnya. Hingga kini, pengajaran dengan pedoman ajar telah menggunakan beberapa kali pergantian kurikulum. Dari kurikulum 1974, 1984, 1994, dan 2004. Karena kurikulum yang terakhir ini juga masih mendapat kritikan dengan dianggap belum mencapai maksimal, pemerintah melakukan penyempurnaan kurikulum tersebut dengan mengembangkan kurikulum 2006 dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Hamied (2001) menyatakan, dalam revisi kurikulum sangat banyak aspek yang perlu menjadi pertimbangan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Diantaranya guru sebagai pelaksana kurikulum yang berada di garis depan menjadi hal penting.

Sementara, kegagalan kurikulum 1984 dan 1994 diduga kuat berada pada tataran praktiknya di lapangan (implementasi). Sebab ketika itu kebanyakan guru kurang memahami pesan-pesan kurikulum yang berlaku dan standar yang telah ditetapkan.  Hasilnya yang kecipratan sial adalah pendidik dan peserta didik.

Dalam analisa penulis, pergantian kurikulum dari tahun ke tahun, tak lebih sebatas proyek yang memakan biaya sampai triliunan rupiah. Tetapi apakah dengan biaya itu kemudian menghasilkan produk pendidikan yang lebih baik? Saya berani mengatakan belum sepenuhnya tujuan pendidikan kita tercapai.  Bahkan, dengan carut marutnya sistem dan kurikulum pendidikan kita, berimbas pada pendidik yang bingung, dalam menerapkan kurikulum yang selalu berganti. Belum lagi kewajiban bertambahnya jam pelajaran dari 26 jam menjadi 30 jam bagi anak Sekolah Dasar.

Dengan konsep yang tidak jelas dari awal tentang penataan sistem pendidikan kita, berakibat pada efek negatif yang timbul, terutama yang menimpa sejumlah generasi muda kita. Seperti anak  remaja-remaja usia sekolah cenderung hedonistic (tampil bermewah-mewah), seks bebas, arisan seks seperti yang terjadi di Jawa Timur, tawuran. Bahkan lebih menyedihkan lagi ada yang terpaksa kawin muda sebagai akibat dari pergaulan bebas. Ironis lagi, sampai ada sebagian remaja yang tega membunuh bayinya sendiri untuk menutupi aib. Na’uzubillah min dzalik!

Menurut hemat penulis, salah satu kelemahan sistem pendidikan nasional yang dikembangkan di tanah air adalah kurangnya perhatian pada capaian program (output). Standarisasi kurikulum, buku, alat, pelatihan guru, sarana dan fasilitas sekolah merupakan wujud kendali pemerintah terhadap input dan proses yang harus berlangsung di dalam sistem. Akan tetapi standar kompetensi apa yang harus dikuasai oleh seorang peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar, belum mendapat perhatian yang semestinya. Kualitas guru di Indonesia masih tergolong relatif rendah. Hal ini antara lain disebabkan oleh tidak terpenuhinya kualifikasi pendidikan.

Sejumlah analisa dan pemikiran mengenai pentingnya upaya peningkatakan daya saing bangsa, dalam hal ini profesionalisme guru merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas pendidikan di Indonesia. Karena Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah, dan dilaksanakan secara obyektif, transparan dan akuntabilitas.

Keberadaan guru dalam kehidupan sosial mempunyai kedudukan yang sangat penting. Semua manusia yang hidup di muka bumi ini sudah pasti pernah mempunyai guru, guru merupakan media tempat manusia menggali ilmu pengetahuan dan mengasah berbagai keterampilan, pembina dalam penyaluran bakat dan potensi, membentuk kepribadian, dan sebagainya. Guru adalah seorang figur yang mulia dan dimulikan oleh manusia.

Tanpa guru maka kita tidak dapat mengembangkan potensi, bakat, kepribadian, dan sebagainya secara terarah yang benar dan baik. Sulit dibayangkan jika di tengah kehidupan manusia tidak ada seorang yang harus ditiru, diteladan, atau tempat untuk menggali pengetahuan.

Guru adalah salah satu komponen penting dalam dunia pendidikan, yaitu terkait dengan proses belajar mengajar, karena melalui gurulah manusia dapat mengembangkan sumber dayanya dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, guru merupakan satu unsur yang utama dalam membimbing manusia ke arah yang hendak ditujunya.

Pekerjaan guru adalah “pekerjaan profesional, oleh karena itu diperlukan kemampuan dan keterampilan. Kemampuan dan keterampilan itu dapat dilihat dari kesanggupannya ketika menjalankan peran dan tugasnya sebagai pengajar, pembimbing, dan pembina ilmu”

Guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang bertugas sebagai transfer atau transmitter of knowledge, artinya memindahkan atau menyalurkan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Tetapi lebih dari itu, ia menjadi pemimpin atau pendidik dan pembimbing di kalangan anak didiknya.

Realita yang terjadi malah sebaliknya, di mana apa yang diungkapkan di atas hanyalah sebuah ilustrasi orang-orang yang mempunyai kepentingan sesaat dalam memanfaatkan uang negara melalui sebuah proyek pendidikan.**

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster