Pagaralam Minim Peserta KB Pria

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PAGARALAM – Sejauh ini peminat akseptor (Peserta KB-red) sebagai pengguna modus operasi pria (MOP) di Bumi Besemah tergolong sangat minim. Meski kurang diminati, rencana menggeber jumlah peran serta keluarga berencana (KB) bagi kaum Adam, terus diupayakan oleh Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Kesejahteraan Perempuan (KBPKP) Kota Pagaralam tahun ini. Demikian dikemukakan Kepala Badan KBPKP Kota Pagaralam dr. H. Rasyidi Amri MT, MKM didampingi Kabid KB KR Suwirman dan Kasubid Jaminan Pelayanan Kontrasepsi Widyawati, kemarin (27/3).

Menurut Rasyidi, saat ini jumlah KB pria tergolong menurun. Namun pihaknya terus berupaya agar program  menggeber jumlah peran serta keluarga berencana (KB) bagi kaum Adam terus diupayakan semaksimal mungkin.

“Tahun 2013 lalu, untuk akseptor melakukan MOP nihil. Berbeda dengan MOW, peminatnya ada 25 akseptor di 2013 silam. Minimnya peminat akseptor melakukan steril (MOP) lantaran persepsi masyarakat beranggapan sama saja melakukan kebiri, padahal tidak demikian. Juga dengan alasan malu melakukannya,” kata Rasyidi.

Lanjutnya, MOP pada akseptor pria bisa dilakukan metode tanpa operasi atau Vasektomi tanpa pisau. Sejauh ini jumlah pria yang memakai alat Keluarga Berencana (KB) di Pagaralam tergolong minim. Sebagian besar pengguna KB masih didominasi oleh kaum perempuan dengan sistem suntikan dan implan.

“Minimnya jumlah pria memakai KB tidak jauh berbeda secara nasional. Karena, hanya 1,5 persen saja laki-laki yang aktif menggunakan alat kontrasepsi untuk keseluruhan di Indonesia,” jelasnya.

Adapun rendahnya kaum laki-laki mengikuti program KB tersebut kata Rasyidi, tidak lain karena jenis alat kontrasepsi untuk pria sangatlah sedikit. Selama ini, umumnya alat KB bagi pria hanya kondom, padahal banyak pria yang tidak suka menggunakan kondom. Padahal keberhasilan program KB sangatlah penting dalam keberhasilan pembangunan yang tengah digiatkan.

“Revitalisasi program KB sangatlah penting dan mutlak diperhatikan secara serius,” katanya seraya berujar selain itu perlu mengubah paradigma masyarakat akan KB, karena selama ini KB seolah-oleh sebuah program yang melarang untuk memiliki anak.

Kendati demikian,  program KB merupakan sebuah perencanaan keluarga agar anak yang lahir memiliki mental yang kuat dan cerdas. Berbeda dengan kalangan perempuan, sedikitnya pilihan alat kontrasepsi untuk laki-laki, menyebabkan mereka enggan ikut program keluarga berencana (KB) yang sampai sekarang ini hanya sekitar 2 persen dari pasangan usia subur.

”Sedangkan keikutsertaan perempuan dalam program KB mencapai 60,3 persen,” sebutnya.

Bagi laki-laki sambung Widyawati, alat kontrasepsi yang tersedia saat ini hanya kondom dan vasektomi, sehingga mereka tidak banyak pilihan. Faktor ini yang menyebabkan rendahnya minat laki-laki untuk ikut serta program KB.

“Selain itu ada anggapan yang keliru di kalangan masyarakat bahwa dengan ikut program KB terutama vasektomi, yang dilakukan adalah pengebirian, padahal itu sama sekali tidak benar,” kata Widyawati  sambil berkata selama ini ada anggapan bahwa peserta KB adalah perempuan.

 

TEKS    : ANTONI STEFEN

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com