Ada Home Industri Ekstasi di Muba

 160 total views,  2 views today

Ilustrasi Ekstasi | Ist

Ilustrasi Ekstasi | Ist

SEKAYU – Peredaran narkoba di Sumatera Selatan (Sumsel), kian meresahkan. Kini, Sumsel tidak lagi sekedar menjadi daerah tempat peredaran narkoba tetapi juga menjadi tempat produksi barang haram tersebut.

Setidaknya ini terungkap saat Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resort (Polres) Muba, Kamis (27/3), berhasil membongkar “home industri” ekstasi di Desa Mangun Jaya, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Muba.

Industri rumahan ini, dilakukan oleh Colman, warga desa tersebut di rumahnya. Dari penggerebekan tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti (BB) 146 butir ektasi, 1,7 gram sabu, seperangkat alat pembuatan ektasi dan lainnya.

Terbongkarnya indsutri rumahan narkoba ini, sebenarnya tidak sengaja. Anggota Polres Muba sebenarnya menurut Kepala Satuan (Kasat) Narkoba Polres Muba, AKP Iwan Setiawan, hendak menggerebek pesta minuman keras (miras) di desa tersebut.

Dalam penggerebekan itu, tidak ditemukan adanya narkoba. Namun petugas kemudian keberadaan Colman, yang memang masuk dalam target operasi (TO) Polres Muba. Petugas kemudian mengintai Colman hingga ke rumahnya.

“Saat tersangka berada di rumahnya, anggota kita langsung melakukan penyergapan. Ternyata di dalam rumah tersangka, kita mendapatkan peralatan yang dipakai untukmembuat ekstasi oplosan,” jelas Iwan.

Alat untuk membuat ekstasi oplosan ini diantaranya  alat pencetak ekstasi dengan beragam motif, kir, beberapa besi, dan bahan-bahan untuk membuat ekstasi diantaranya paramex, asam mefenamat, borak, pewarna serta ekstasi yang akan dicampur sebanyak 146 butir serta sabu seberat 1,7 gram.

“Alat-alat untuk memproduksi ekstasi itu, disimpan tersangka di dalam kamarnya. “Tersangka ini, sudah menjadi TO kita. Ia selain pengedar narkoba juga adalah bandarnya sekaligus pemakai. Saat ini, BB 16 butir ekstasi akan kita bawa ke labortorium untuk diteliti apakah itu oplosan atau tidak,” ucapnya.

Sementara itu tersangka Colman dihadapan petugas mengaku, baru dua bulan terakhir memproduksi ekstasi di rumahnya. Ia menyebut, usaha haramnya itu dirintis tidak belajar dengan orang lain melainkan sekedar coba-coba.

“Alat membuatnya, juga saya buat sendiri. Untuk bahannya, saya beli di apotik. Dalam satu hari, saya bisa memproduksi 10 butir pil ekstasi. Ekstasi itu, saya jual dengan harga yang tidak pasti. Biasanya saya tawarkan Rp 200 ribu, kalau tidak laku bisa Rp 50 ribu. Bahkan kalau lagi sepi saya jual  Rp 30 ribu,” tukasnya.

 

TEKS         : BAGUS SANTOSO

EDITOR       : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster