Politik Uang Jadi Budaya

 219 total views,  2 views today

PALEMBANG – Politik uang ternyata, bukan hanya menjadi “penyakit” dalam kehidupan demokrasi di Indonesia saja. Politik uang ternyata juga terjadi di banyak negara di kawasan Asia Tenggara. Ini diungkapkan Prof Edward Aspinall dari Australian National University (ANU) dan Prof Mederick dari Amerika Serikat.

Hasil penelitian keduanya di Indonesia, Thailand, Philipina dan Malaysia menunjukkan kalau politik sudah menjadi budaya dalam kehidupan berdemokrasi di masyarakat pada empat negara tersebut.

“Setiap negara punya istilah berbeda, di Indonesia disebut serangan fajar, Thailand disebut disebut Malam Anjing Menggonggong, sedangkan di Papua Nugini disebut Malam Setan,” kata Prof Edward, kemarin di Program Pasca Sarjana (PPS) Universitas Sriwijaya (Unsri).

Edward menyebut, politik uang ini sudah menjadi budaya di masyarakat. Sehingga tidak bisa dihindari adanya praktik jual beli suara dalam setiap pesta demokrasi. Politik uang jelasnya, dianggap masyarakat sebagai praktik jual beli jasa budi.

“Ini adalah kesalahan penafsiran budaya, akibat munculnya paham liberal di era globalisasi. Tanpa disadari, praktik jasa budi itu berubah menjadi uang. Sehingga populer di masyarakat istilah kami dapat apa, “ ucapnya.

Terjadinya praktik politik uang ini sebutnya berimbas pada kualitas wakil rakyat yang terpilih. Karena, orang yang belum populer dan belum ada prestasi di masyarakat, bisa terpilih dengan “membeli” suara masyarakat.  “Persoalan ini, tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga di negara-negara menengah kebawah. Hal itu disebabkan masyarakat ingin, kenyang dulu perutnya,” ujarnya.

Untuk mengubah semua itu menurut Edward, memang sulit. Tetapi itu bukan mustahil untuk dihilangkan, salah satu caranya dengan memperkuat integritas bangsa atau membangun karakter bangsa. “Masyarakat diperkuat dulu, misalnya melalui penyadaran kebangsaan. Mereka harus disadarkan, kalau bangsa ini nasibnya ada ditangan masyarakat bukan karena uang,” sarannya.

Mereka sambungnya, juga harus diberikan pengertian kalau menerima uang sama saja menjual harga diri. Dengan begitu sebut Edward, masyarakat bisa berpikir kedepannya. “Di Indonesia, sudah mulai terlihat. Masa kampanye terbuka yang sudah  satu minggu, saya lihat tidak lagi ada kampanye jor-joran seperti dulu,” ujarnya.

Belum Terlalu Parah

Sementara itu pengamat politik dari Unsri, Ardiyan Saptawan menilai politik uang di Indonesia, belum separah jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Thailand, dan Malaysia.

Namun politik dagang sapi yang terjadi di Indonesia kata Ardiyan, berbahaya karena berdampak pada menurunnya tingkat partisipasi masyarakat untuk menggunakan hak suaranya.

“Rakyat sebenarnya sadar, namun karena masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk melawan sehingga mereka apatis. Dari apatis itu, tingkat partisipasi masyarakat menurun, kalau Indonesia dibiarkan seperti ini terus, akan berbahaya dan akan seperti Thailand nanti dimana setiap dua tahun sekali kudeta. Di kita, sudah ada upaya kudeta, dengan menjegal program pemerintah di DPR RI. Ini sangat berbahaya, bagi masa depan bangsa,” tukasnya.

TEKS           : DICKY WAHYUDI

EDITOR         : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster