Caleg Kerahkan Utusan Rekrut Data Pemilih

 347 total views,  2 views today

PAGARALAM – Hari pelaksanaan pemungutan suara yang tinggal menghitung hari, dimanfaatkan benar-benar oleh para calon legislatif (caleg) untuk mendapatkan simpatisan dari pemilih.

Sejauh ini berbagai kiat pun dilakukan, supaya pemilih dapat menggunakan hak pilihnya sekaligus memberikan dukungannya pada pileg 9 april mendatang.

Upaya untuk mendapatkan hak suara tersebut dilakukan caleg dengan door too door mendatangi masyarakat. Bahkan tak sedikit daripada caleg yang bakalan bersaing pada 9 april nanti mengerahkan utusan mereka mencari serta mendata para pemilih dengan pengakuan kalau utusan yang mereka kerahkan adalah tim.

Menariknya, tim atau utusan yang mereka kerahkan tidak hanya dilakoni oleh laki-laki, akan tetapi dilakukan juga oleh perempuan yang tak sungkan-sungkan datang ke rumah untuk mengajak memilih caleg yang dijagokan, bahkan tak tanggung di satu kampung bisa 2 atau 3 orang yang menjadi utusan dari seorang caleg.

Iskariyadi (32) warga Talang Sawah Kelurahan Bangun Rejo mengatakan, dalam sehari bisa saja 2 atau 3 orang secara bergantian datang kerumahnya untuk mengajak memilih seorang caleg.

“Saya bingung, siapa lagi akan dipilih karena sudah banyak sekali calon mengajak memilih si A dan si B,” ujarnya, kemarin (26/3).

Menurutnya, semakin dekat dengan waktu pemilihan semakin banyak pula orang-orang yang datang kerumah untuk melakukan pendataan.

“Sejauh ini sudah ada utusan beberapa caleg dari parpol yang berbeda datang kerumah,” ucapnya seraya berujar ada yang dari Golkar, PBB, PKB, Demokrat dan caleg lainnya, tetapi ia tidak mengenal sosok caleg yang ditawarkan.

Senada dikemukakan Edi Septiansyah (35) warga Perumnas Nendagung Kelurahan Nendagung, yang tidak hanya didatangi utusan para caleg. Dirinya pun pernah diminta untuk mencari massa dari beberapa orang caleg, baik untuk Kabupaten/Kota maupun caleg provinsi.

“Pernah juga ada caleg yang meminta saya untuk menjadi timnya guna mencari massa terutama menghimpun keluarga sendiri dulu,” katanya.

Kendati demikian kata dia, demokrasi sekarang sudah tidak mendidik lagi. Karena masyarakat sudah banyak terpengaruh dengan budaya money politik (politik uang). Atau trend sekarang istilah “wani piro”.

“Bisa saja kita mengajak orang-orang untuk mendukung salah satu caleg, akan tetapi mereka selalu menanyakan, apakah ada uangnya dan berapa jumlahnya,” terang Edi dengan nada sedikit menyayangkan.

Terpisah, Ketua Panwaslu Pagaralam melalui Divisi Pengawasan Sahlan mengatakan, soal pendekatan ke konstituen jika sudah mengarah ke ajakan atas nama caleg sebenarnya merupakan pelanggaran.

“Sudah seharusnya sejumlah parpol bergerak untuk berkampanye,” tegasnya.

 

TEKS    : ANTONI STEFEN
EDITOR  : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster