Wiranto : Indonesia Merdeka Namun Belum Berdaulat

 142 total views,  2 views today

Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto memberikan orasi politiknya di depan ratusan simpatisan partainya di Benteng Kuto besak, Palembang, Senin (24/3). Selain Kampanye Akbar, kegiatan kampanye ini juga diisi acara hiburan.  Foto : Bagus Kurniawan

Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto memberikan orasi politiknya di depan ratusan simpatisan partainya di Benteng Kuto besak, Palembang, Senin (24/3). Selain Kampanye Akbar, kegiatan kampanye ini juga diisi acara hiburan. Foto : Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Partai Hanura, Senin (24/3), memanfaatkan jadwal kampanye terbukanya di Sumatera Selatan (Sumsel) di dua tempat yakni Palembang dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dengan mendatangkan Ketua Umum sekaligus calon presiden (capres) dari partai tersebut, Wiranto.

Di Palembang, kampanye partai bernomor urut 10 ini digelar di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB). Kampanye terbuka ini, sepi dari massa. Diprakirakan hanya sekitar 1000 orang lebih, massa Hanura yang mengikuti kampanye tersebut.

Dihadapan hadapan simpatisan dan calon anggota legislatif (caleg) Hanura, mantan Panglima TNI itu menyebut, Indonesia memang sudah merdeka namun menurutnya belum sepenuhnya berdaulat.

Itu kata Wiranto, ditunjukkan dengan berbagai produk luar negeri yang membanjiri pasar Indonesia misalnya beras, gula, buah-buahan, hingga energi. Padahal, Indonesia dulunya sempat swasembada pangan dan pusatnya energi. “Lihat saja, durian kita impor dari Bangkok, klengkeng yang besar-besar itu dari Thailand. Lama-lama, nanti cewek yang kita impor dari Thailand,” kritik Wiranto.

Menurut dia, kondisi ini disebabkan tidak becusnya pemerintah saat ini. Pemimpin tidak menggunakan hati nuraninya membangun bangsa dan memajukan Indonesia. “Jika hati nurani rakyat dipakai, tidak mungkin seperti itu. Kita bisa kelola sumber daya alam kita dengan benar demi kesejahteraan rakyat,” ungkap Wiranto.

“Saya sedih kondisi saat ini. Maka mari kita coblos partai nomor 1,0 pada 9 April nanti. Insya Allah, kita menang,” sambungnya.

Wiranto juga mengungkap alasannya tampil dalam reality show yang bertema Mewujudkan Mimpi Indonesia yang ditayangkan RCTI. Dalam acara itu, Wiranto menyamar sebagai wong cilik, mulai dari tukang becak, penjual asongan, dan menjadi pemulung. Wiranto menyebutkan, inspirasi menyamar beberapa profesi itu lantaran ingin mengetahui dan mengalami langsung nasib rakyat Indonesia saat ini. “Saya sedih sekarang ini, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Inilah kondisi bangsa Indonesia saat ini,” kata Wiranto.

Dari pengalamannya menyamar sebagai wong cilik seperti tukang becak, menurut Wiranto, ia mendapat banyak pelajaran berharga. Dia mengaku, sangat sulit menjadi tukang becak atau profesi pinggiran lainnya. “Saat saya menyamar jadi tukang becak, tahu tidak berapa duit yang saya dapat? Seharian saya cuma dapat Rp 15 ribu. Bagaimana nasib tukang-tukang becak lainnya,” ungkapnya.

Wiranto juga bercerita saat bertemu dengan salah satu tukang becak yang bernama Widodo dalam penyamarannya. Karena sedih, Wiranto memberikan becak kepadanya. Sebab, selama 32 tahun bergelut di pekerjaan itu, Widodo tak mampu membeli becak seharga Rp 1,5 juta.

“Masa 32 tahun tak mampu beli becak sendiri. Ini bangsa apa. Makanya, dari situlah saya ikut dalam reality show dengan menyamar. Agar tahu bagaimana nasib rakyat. Dengan begitu, kita bisa bantu mereka dan menggunakan hati nurani dalam membangun bangsa ini. Sampai kapan bangsa kita seperti itu. Mari kita lakukan perubahan agar rakyat kita makin sejahtera,” ujarnya.

Sementara saat berkampanye di Lapangan Segitiga Emas, Kayuagung, Wiranto, meminta kepada para caleg Hanura jika terpilih nanti, agar dapat mengutamakan pembangunan infrastruktur jalan yang saat ini masih banyak rusak. “Kalau kalian terpilih nanti, jangan lupa utamakana pembagnunan jalan, biar rakyat senang,” kata Wiranto.

Kerusakan jalan di Sumsel menurutnya, cukup menjadi perhatian yang serius. Hal ini dibuktikannya ketika dari Palembang menunju Kayuagung yang terjebak dengan kondisi banyaknya jalan rusak.” Saya naik mobil dari Palembang menuju Kayuagung, eh jalannya banyak yang rusak, pantat saya jadi sakit semua” ujarnya dihadapan ribuan simpatisan Partai Hanura.

Permasalahan rusaknya jalan di Indonesia menurut dia, masih banyak pejabat yang korupsi. Setidaknya dia menyebut 30 persen uang rakyat di Indonesia ini menguap tak jelas kemana.” Coba kalau uang tersebut dibangunkan ke jalan, maka tidak ada lagi jalan yang rusak” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya di Kabupaten OKI, untuk memilih pemimpin yang benar-benar peduli dengan rakyat dengan mengutamakan hati nurani dalam memimpin.” Kalau pemimpinnya menggunakan hati nurani, Insya Allah tidak akan menghianati rakyatnya,” tukasnya.

 

TEKS     : DONI A/DICKY W

EDITOR     : DICKY WAHYUDI

.

 

 

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster