Tiga Tersangka Korupsi Jagara Huni Rutan Pakjo

 224 total views,  2 views today

Ilustrasi Sel Penjara

Ilustrasi Sel Penjara

PALEMBANG – Tiga terpidana Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pembangunan Jalan Jagaraga yang berada di Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS), yakni Maulana, Burhaenedi, dan Khaerul Amri, resmi menjadi penguhi rumah tahanan (Rutan) Pakjo Palembang, Selasa (25/3).

Usai ditahan di Rutan Pakjo Palembang, Maulana berencana akan mengajukan penangguhan penahanan melalui pengacaranya. “Kita akan siapkan pengajuan penangguhan penahanan kepada Kejati Sumsel. Untuk saat ini, kita ikuti dulu prosedur hukum yang dilakukan Kejati Sumsel,” kata Harma Ellen, pengacara Maulana.

Sesaat sebelum dilimpahkan ke Kejati Sumsel, Maulana dan dua rekannya menjalani pemeriksaan di Polda Sumsel selama 30 menit. Baik saat diperiksa di Polda Sumsel atau pun Kejati Sumsel, Maulana selalu menutupi wajahnya dengan tangan.

Alhasil, yang terlihat mencolok hanyalah peci putih yang dikenakan adik kandung Bupati OKU Selatan, Muhtadin Sera’I, itu.

Sementara dua tersangka lainnya, Burhaenedi dan Khaerul Amri, terlihat sedikit santai ketimbang Maulana. Meski melangkah cepat, mantan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pembangunan Jalan Jagaraga OKU Selatan itu tidak satu kali pun menutup wajah, baik saat diperiksa di Polda Sumsel maupun di Kejati Sumsel.

Keduanya bahkan sesekali melepas senyum saat disambut kerabat yang menunggu di Kejati Sumsel. Ketiga tersangka ini sendiri diperiksa dua jam di Kejati Sumsel sesaat sebelum dikirim ke Rutan Pakjo, Palembang.

Kepala Kejati Sumsel, Ajimbar, melalui Kasi Penkum dan Humas Kejati Sumsel, Mulyadi, mengatakan ketiga tersangka ditempatkan di Rutan Pakjo Palembang. Penahanan ini dilakukan sesuai dengan KUHAP selama proses pelimpahan ke pengadilan.

“Usai penerimaan barang bukti dan ketiga tersangka, kita memutuskan untuk melakukan penahanan kepada ketiga tersangka. Setidaknya, akan kita segera limpahkan ke pihak pengadilan dalam waktu 20 hari ke depan,” kata Mulyadi.

Terkait pengajuan penahanan yang akan dilakukan oleh pihak Maulana, Mulyadi mengatakan itu sah-sah saja. Sudah menjadi hak tersangka untuk mengajukan penangguhan penahanan selama proses pelimpahan dari kejaksaan ke pengadilan. Namun, diterima atau tidaknya pengajuan penahanan, tergantung dari keputusan Kajati Sumsel.

“Penahanan dilakukan karena takut tersangka kabur, menghilangkan alat bukti, dan mengulangi kembali perbuatannya. Jika dianggap tidak berpotensi melakukan tiga hal itu, bisa saja tidak dilakukan penahanan,” kata Mulyadi.

Untuk barang bukti yang sudah disita penyidik, yakni dua truk dan tanah seluas 130 hektar (yang disita di daerah Way Kanan, Lampung) serta tanah seluas 1628 meter persegi di Muaradua sudah diterima Kejati Sumsel dari tim penyidik.

Untuk dua truk, diletakkan di suatu tempat sementara tanah terus dipasangi garis polisi di lokasi. “Karena halaman Kejati Sumsel tidak cukup luas untuk menampung dua truk, jadi diletakkan di suatu tempat,” kata Mulyadi.

Untuk diketahui, ada penyalahgunaan proyek pembangunan Jalan Jagaraga, yang ada di Muaradua OKU Selatan. Proyek pembangunan jalan sepanjang 14 kilometer yang belum selesai sudah mendapat bayaran 100 persen dari total proyek, yakni sekitar Rp 35,8 miliar. Akibatnya, negara mengalami kerugian sekitar Rp 9,2 miliar.

 

Teks : Oscar Ryzal

Editor : Junaedi Abdillah

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster