Dugaan Korupsi Cetak Sawah Amirudin Dicecar 22 Pertanyaan

 662 total views,  2 views today

amirudin-inoed

Mantan Bupati Banyuasin, Amiruddin Inoed | Dok KS

PALEMBANG – Mantan Bupati Banyuasin, Amiruddin Inoed memenuhi panggilan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (25/3).

Amiruddin tiba di Gedung Ditreskrimsus Tipikor Polda Sumsel sekitar pukul 08.30 WIB, atau setengah jam lebih awal dari jadwal yang ditetapkan.  Ayah dari Bupati Banyuasin saat ini, Yan Anton Ferdian itu, datang ke Mapolda Sumsel dengan diantar mobil Honda CRV BG 9 AG, warna hitam.

Kedatangan mantan orang nomor satu di Banyuasin ini, diperiksa sebagai saksi terkait dugaan korupsi proyek cetak sawah di Kabupaten Banyuasin, yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 sebesar Rp 18 miliar.

Tim penyidik memeriksa Amirudin, selama dua jam. Ia dicecardengan 22 pertanyaan, tentang proyek pencetakan cetak sawah di Dinas Pertanian dan Peternakan (DPP) Banyuasin tersebut. Pantauan di lapangan, Amiruddin terlihat santai usai menjalani pemeriksaan. Sesekali, ia melepas senyum saat hendak dijumpai.

Dijelaskan Amiruddin, ia diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi pada proyek pencetakan sawah di DPP Banyuasin. Saat proyek ini berjalan, ia masih berstatuskan sebagai Bupati Banyuasin.

“Pertanyaan yang diberikan tidak jauh dari pokok masalah tersebut, karena saya saat itu menjabat sebagai Bupati Banyuasin. Jadi, saya menjawab pertanyaan itu hanya sebatas jabatan saya sebagai bupati saja. Kalau untuk hal yang lain, saya tidak tahu,” kata Amiruddin.

Sementara itu, Direktur Ditreskrimsus Polda Sumsel, Kombes Pol  Eddy Purwatmo melalui Kasubdit III Unit Korupsi Ditreskrimsus Polda Sumsel, AKBP Imran Amir, mengatakan Amiruddin diagendakan untuk diperiksa sebagai saksi kasus dugaan tipikor proyek cetak sawah di DPP Banyuasin.

Pihak penyidik sendiri melontarkan 22 pertanyaan saat memeriksa Amiruddin. “Ia bersifat kooperatif dan memenuhi panggilan, bahkan datang lebih awal dari jadwal. Kita akan mendalami hasil pemeriksaan untuk mengungkap tersangka baru. Sejauh ini, sudah ada 22 saksi yang kita mintai keterangan,” jelas Imran.

Disinggung apakah ada kemungkinan status Amiruddin menjadi tersangka, Imran belum bisa menjawab. Menurutnya, keputusan itu bisa disimpulkan begitu penyidik mempunyai kesimpulan dari keterangan Amiruddin.

“Sejauh ini, tersangkanya baru satu atas nama Mardian, yang pada saat proyek berjalan menjabat Kepala DPP Banyuasin. Ada beberapa tersangka sudah berstatuskan terpidana, usai divonis di PN Palembang. Tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru,” ujarnya.

Dugaan tipikor dalam proyek cetak sawah di DPP Banyuasin ini, rupanya sudah menjadi atensi Polda Sumsel sejak perkara ini mencuat. Sebab itu, Polda Sumsel langsung mengambil gerak cepat dengan mengambil alih penyidikan kasus dari Polres Banyuasin. “Untuk kasus dugaan tipikor yang menjadi atensi Polda Sumsel, akan diambil alih oleh Polda Sumsel. Salah satunya adalah kasus ini,” kata Imran.

Seperti diketahui, kasus dugaan tipikor proyek cetak sawah DPP Banyuasin muncul setelah penyidik Polres Banyuasin menduga korupsi dana proyek. Dana itu, dari hasil pemeriksaan, tidak sesuai dengan fungsinya. Proyek ini menggunakan anggaran APBN program Bansos 2012 senilai Rp 18 miliar.

 

TEKS         : OSCAR RYZAL

EDITOR        : JUNAEDI ABDILLAH





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster