Staf IT Minggat, Puluhan Siswa Tidak Ikut SNMPTN

 443 total views,  2 views today

 

SMA YKPP Pendopo

SMA YKPP Pendopo

PALI – Puluhan siswa kelas XII SMA YKPP Pendopo, Kabupaten PALI tidak bisa mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN).

Gagalnya puluhan siswa tersebut lantaran ulah staf IT di Bagian Tata Usaha SMA paling favorit di Kabupaten PALI itu menghilang tanpa jejak.  Staf IT tersebut menguasai password komputer dan password ke sistem yang terintegrasi dengan internet.

“Awalnya kita percaya penuh karena sudah enam tahun kerja disini (SMA YKPP),” kata Wahyu Jatmiko, Kepala Sekolah SMA YKPP Pendopo.

Kepercayaan itu justru disalahgunakan oknum tersebut. Beberapa waktu lalu staf IT itu memohon izin menengok orang tuanya yang sakit di Lampung.

Karena alasan kemanusiaan, Wahyu pun mengizinkan. Setelah ditunggu beberapa hari tidak muncul dan teleponnya tidak aktif, Wahyu pun curiga. Soalnya meskipun sudah bekerja selama enam tahun, oknum itu masih berstatus honorer. Tidak ada jaminan akan kembali.

“Akhirnya saya coba membuka akses komputer, setelah saya buka ternyata komputernya dikunci pakai password,” ujar Wahyu.

Setelah menggunakan jasa IT beberapa perusahaan migas yang ada di Talang Ubi, komputer bisa dibuka. Apa daya data siswa untuk pendaftaran SNMPTN sudah dihapus. Dengan gerak cepat, pendataan pun dilakukan kembali. Karena pendaftaran data siswa dilakukan tanggal 6 Januari – 6 Maret, pihak sekolah hanya mampu mengirimkan 25 persen dari 150 data siswa kelas XII.

“Secara kolektif, ini kerja tim. Oknum itu bagian dari tim kami. Karena saya kepala sekolah, saya bertanggung jawab terhadap kesalahan ini,” tegas Wahyu yang baru setahun menjabat Kepsek tersebut.

Wahyu menegaskan, jalur SNMPTN yang berantakan ini hanya salah satu dari sekian banyak cara siswa untuk kuliah di perguruan tinggi negeri. Bahkan tahun lalu saja  hanya satu siswa SMA YKPP yang berhasil lulus melalui jalur SNMPTN.  “Tahun lalu hanya satu, lulus di IPB,” jelasnya.

Sementara melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang dilakukan melalui tes tertulis justru 25 anak didiknya terdata lulus.

Wahyu juga mengelak bila kesalahan ini semata-mata akibat kelalaian pihak sekolah. Sebab pada tahun-tahun sebelumnya, saat masih bergabung dengan Muara Enim, pihak Dinas Pendidikan kabupaten membantu pengawasan terhadap pendataan PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa).

“Dulu kalau data kita di PDSS kurang lengkap, pihak dinas pendidikan memberitahu dan memperingatkan sekolah. Nah, tahun ini tidak ada peringatan itu. Jadi kita menganggap data kita sudah selesai dan aman. Mungkin karena kita masih baru,” ungkap Wahyu.

Wahyu berharap, para orang tua dan wali siswa tidak resah menyikapi hal ini. Karena SNMPTN bukan satu-satunya cara masuk perguruan tinggi. “Masih banyak cara lain. Kami sangat yakin kemampuan anak-anak didik kami untuk menempuh tes tertulis via SBMPTN,” pungkas Wahyu.

 

Teks  : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster