Pendamping Disabilitas Diminta Lebih Satu Orang

 148 total views,  2 views today

PALEMBANG – Para penyandang cacat atau disabilitas, diminta untuk mendapatkan penanganan khusus saat menyalurkan hak suaranya pada pemungutan suara di Pemilihan Umum Legislatif (Pileg), 9 April mendatang.

Karenanya masyarakat atau petugas yang mendampingi pemilih disabilitas, diharapkan lebih dari satu orang. Hal ini diungkapkan calon legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Yuswar Hidayatullah yang dibincagi, Senin (24/3).

Menurut Yuswar, pendamping pemilih disabilitas minimal tiga orang, hal ini untuk mengurangi kemungkinan dilakukan kecurangan. “Minimal dua atau tiga orang pendamping, karena kalau cuma satu, nanti dicurigai. Satu pendamping bisa petugas dari KPPS dan duanya bisa diambil dari saksi parpol,” kata Anggota DPRD Sumsel ini.

Ia mengatakan, untuk mengurangi terjadinya permasalahan hukum, diharapkan persoalan yang timbul di tingkat TPS, harus diselesaikan disana, begitu juga pada tingkatan-tingkatan selanjutnya.

“Kalau ada permasalahan di TPS, ya harus diselesaikan di TPS, karena kalau nanti terjadi gugatan ke MK (mahkamah konstitusi), tidak begitu ribet, harus melakukan penghitungan dari awal lagi. Intinya, jangan biarkan permasalahan itu menumpuk,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga penyelenggara, harus memastikan peralatan yang digunakan pada hari pencoblosan, seperti surat suara, tinta, dan formulir-formulir, sudah lengkap. “Semua harus di cek, dan dibuatkan berita acaranya, jangan sampai pada hari H, baru diketahui ada kebutuhan TPS yang kurang, seperti surat suara atau formulir,” imbaunya.

Sebelumnya, Komisioner KPU RI, Sigit Pamungkas menyebut KPU tidak menyediakan templet untuk penyandang cacat guna menentukan hak pilihnya untuk memilih anggota legislatif. Templet itu, akan diberikan untuk calon anggota DPD saja.

“Templet tidak kita berikan di Pileg, dikarenakan terdapat banyak caleg yang ada di surat suara sehingga menyulitkan penyandang cacat dalam memilih. Sementara pada pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres), kaum disabilitas tersebut akan menggunakan alat bantu tersendiri yaitu templat coblos surat suara dalam bentuk gambar atau huruf  braill,” jelas Sigit saat memberikan memberikan orientasi tugas pokok anggota KPU kepada 75 anggota KPU se- Sumsel di Hotel Grand Zuri, Palembang,  beberapa waktu lalu.

Namun KPU terangnya, memberlakukan aturan khusus untuk pemilih yang berstatus penyandang cacat atau kaum disabilitas. Mereka diperbolehkan, untuk didampingi saat masuk ke dalam bilik suara dan menggunakan hak pilihnya.

“Pada Pileg, penyandang cacat akan dibantu pendamping. Dimana pendampingnya bisa dari petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) atau keluarga yang terverifikasi kebenarannya,” jelas Sigit.

 

TEKS         : DICKY WAHYUDI

EDITOR       : IMRON SUPRIYADI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster