Ekonomi Kapitalisme vs Sosialisme

 221 total views,  2 views today

(Catatan tentang Penikiran Muhammad Baqir Ash-Sadr)

Oleh Ervita Safitri, SE., M.Si

(Ka. Prodi D.III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi UMP)

Muhammad Baqir Ash-Sadr (selanjutnya disingkat Sadr) sebagai salah satu tokoh intelektual muslim kontemporer, menawarkan gagasan sistem ekonomi Islam yang digali dari landasan doktrinal Islam yakni al-Qur’an dan al-Hadis. Sadr tidak sepakat bahwa ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang sama seperti sistem ekonomi sebelumnya seperti kapitalisme dan sosialisme.

Keterpurukan ekonomi yang melanda situasi dunia saat ini, tidak lain adalah efek dari sistem kapitalisme yang semata-mata berorientasi pada akumulasi kapital. Praktiknya sistem ini mengabaikan beberapa faktor penting dalam kehidupan. Baik faktor nilai-nilai moral maupun aspek kehati-hatian yang pupulis dengan menejemen risiko dalam diskursus ilmu ekonomi.

Transaksi derivatif yang menjadi awal krisis dewasa ini, adalah fakta konkrit yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun bahwa memperoleh keuntungan dengan jalan spekulasi yang dalam pemikiran Muhammad Baqir Ash-Sadr secara khusus dikenal sebagai praktik riba adalah semata-mata akan mendatangkan kemudhoratan bagi manusia.

Hal ini selaras dengan ekonom konvensional yang sekaligus mantan gubernur The Fad Alan Gleenspan. Dia menyatakan tingkat suku bunga rendah, dalam satu sisi sebagai piranti untuk mengelolah inflasi. Namun dalam kenyataannya melahirkan Bubble Economic yang dalam waktu tidak lama akan melahirkan dampak krisis ekonomi yang luar biasa.

Di sisi lain, peran pemerintah di bidang ekonomi dewasa ini cenderung mengamini paham Laissez Faire yang menjadi ruh mekanisme pasar sistem kapitalisme. Padahal jika dilacak akar lahirnya sebuah negara adalah bermula dari adanya kontrak sosial antara masyarakat dengan negara. Dalam hal ini, masyarakat merelakan sebagian haknya untuk dibatasi dalam tata kehidupan bernegara yang bertujuan untuk mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan dalam hidup.

Teori kontrak sosial tersebut sebagaimana JJ Rosseuo kemukakan nyatanya di bawah sistem kapitalisme pasar tidak mendapatkan tempat yang cukup berarti. Hal yang berbalik dengan pemikiran Sadr tentang peran dan tanggung jawab negara di bidang ekonomi. Bagi Sadr, negara sangat jelas harus berperan aktif dalam menentukan arah kebijakan dan melakukan pengawasan terhadap interaksi ekonomi dalam suatu negara. Institusi hisbah (pengawasan) yang menjadi konsensus Sadr secara khusus merupakan bukti konkrit akan hal ini.

Sementara itu, jika Sadr secara jelas menyatakan bahwa paradigma sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada akumulasi kapital semata, sebagaimana dewasa ini nampak di kehidupan sehari-hari, dan mengabaikan peran nilai-nilai di luar kepentingan ekonomi, hanya akan berakhir pada ketidak seimbangan ekonomi dalam masyarakat. Hal ini selaras dengan pandangan Karl Marx yang menyatakan bahwa sistem kapitalisme merupakan sistem yang di penuhi oleh sifat negatif. Sifat negatif tersebut dalam kenyataannya menguasai sifat positif dari kapitalisme. Oleh karena itu, pembaharuan dan reformasi dalam sistem kapitalisme tidak akan mampu menghilangkan sifat dasar negatif tersebut.

Di sisi lain, gagasan Sadr tentang pemerataan kekayaan yang mengharuskan adanya sirkulasi harta baik pada domain lokal maupun transnasional juga selaras dengan kritikan Kevin Danaher dalam bukunya ”10 Reason Abolish IMF And World Bank” terhadap kebusukan sistem kapitalisme lewat jejaring 2 institusinya IMF dan World Bank. Menurut Kevin Danaher mengutip data dari The United Nations Development Program (UNDP), bahwa sebanyak 20% kaum kaya di dunia tengah menikmati 86 % sumber kekayaan dunia, sedangkan 80 % penduduk miskin di dunia hanya menikmati 14 % sumber kekayaan dunia. Betapa ini merupakan sebuah ketimpangan yang tengah dihasilkan oleh sistem kapitalisme yang ironisnya diterapkan hampir di seluruh belahan negara di dunia ini.

Pandangan serupa juga dapat diketemukan dalam pemikiran Fritjof Capra dalam bukunya ”The Hidden Conections” sebuah gagasan yang mencoba menawarkan sebuah strategi melawan kapitalisme baru. Menurut Capra, berbagai sistem terpadu yang mengitegrasi dimensi biologis, kognitif, dan sosial dari kehidupan dan memperlihatkan bagaimana pemahaman ini akan sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia.

Dunia dewasa ini bagi Capra, sedang dihadapkan pada dua perkembangan yang sangat mempengaruhi manusia. Dua hal tersebut yakni kapitalisme global dan perencanaan Ecodesign sedang dalam posisi yang saling bertabrakan. Oleh karena itu, bagi Capra yang harus dilakukan oleh manusia sekarang adalah mengubah tata nilai yang mendasari sistem perekonomian global dewasa ini.

Tidak jauh dengan pandangan Capra, Anthony Gidden dalam bukunya The Thrid Way menyatakan dunia seyogyanya mencari jalan ketiga dari pergumulan sistem kakap dunia yakni kapitalisme dan sosialisme. Tumbangnya Komunisme Soviet Rusia dalam satu sisi juga telah mengisyaratkan akan ketidakberdayaan sistem kakap dunia, sosialisme dan kapitalisme dalam memecahkan problem ekonomi yang di hadapi oleh manusia. Senada dengan hal ini, Francis Fukuyama melalui The And Of History juga mengungkap hal yang sama. Dalam hal ini Gidden menyatakan, sistem alternatif adalah salah satu kunci untuk keluar dari permasalahan tersebut.

Kehadiran sistem alternatif baru tersebut bukanlah gagasan awam, tetapi mendapat dukungan dari ekonom terkemuka di dunia yang mendapat hadiah Nobel 1999, yaitu Joseph E.Stiglitz. Bersama Bruce Greenwald, Stiglitz menulis buku “Toward a New Paradigm in Monetary Economics” mencoba menawarkan paradigma baru dalam ekonomi moneter. Dalam buku tersebut mereka mengkritik teori ekonomi kapitalis (konvensional) dengan mengemukakan pendekatan moneter baru yang entah disadari atau tidak merupakan sudut pandang ekonomi Islam di bidang moneter, seperti peranan uang, bunga, dan kredit perbankan.

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster