“Segera Kembalikan Tanah Kami”

 218 total views,  2 views today

KAYUAGUNG – Sepak terjang oknum Kepala Desa (Kades), Cinta Jaya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten OKI, Abdullah Sani, dinilai sudah melampaui batas. Bagaimana tidak, atas ulah sang Kades, Hamidi (60) warga Desa Pedamaran IV  bersama puluhan temannya merasa dirugikan lantaran sekitar 500 hektare lahan kelampoknya dijualkan kades tanpa sepengetahuan mereka. Padahal wilayah letak tanah yang berada di kawasan Sukaperno, Desa Pedamaran 5, tersebut bukan merupakan wilayah Desa Cinta Jaya.

“Bayangkan padahal lahan tersebut bukan wilayah dia, tiba-tiba dengan beraninya kades Abdullah Sani menjualkan tanah kami” kata Hamidi sambil mengelus dada akibat tanah kebunnya dijualkan oleh kades tersebut ke PT Sampoerna Agro.

Berdasarakan keterangan Hamidi dan kawan-kawanya, sebenarnya ulah kades Cinta Jaya yang menjualkan tanah warga, bukan hanya tanah miliknya saja. Namun juga sekitar ribuan hektare lahan di wilayah yang sama juga telah dijualkan ke pihak perusahaan. Namun mereka tidak ambil pusing lantaran sudah diganti rugi. Kendati kata dia, kebanyakan mereka yang diganti rugi itu, adalah orang -orang yang tak wajar, melainkan ada dugaan bukan merupakan pemilik tanah sebenarnya.

“Kalau kami lihat dari nama-nama masyarakat yang telah diganti rugi, kebanyakan nama-nama tersebut pemilik lahan, namun menerima ganti rugi” ungkapnya.

Menurut Hamidi, pertama kali mengetahui bahwa tanahnya telah dijualkan kades Cinta Jaya, setelah mengetahui alat berat PT yang ingin menggarap tanahnya,” ujarnya.

Saat itu saya lagi menyadap kebun karet saya, tiba-tiba alat berat tersebut memasuki kawasan tanah milik saya dan teman-teman, akhirnya saya stop, dan menanyakan mengapa mau merambah ke lahan saya? Ternyata orang perusahaan mengatakan, kalau lahan ini telah diganti rugi melalui perangkat desa Cinta Jaya, sebesar Rp2,5 juta per hektare, mendengar hal tersebut saya terkejut bukan main” ucapnya.

Merasa tanah tersebut adalah miliknya, akhirnya Hamidi menunjukkan bukti kepemilikan dengan pihak perusahaan, hingga kawasan yang semula akan diramba, terpaksa dihentikan untuk sementara sampai persoalan tersebut selesai.

“Kami sempat bertemu langsung dengan pihak perusahaan, mereka mengatakan sudah mengganti seluruh lahan itu termasuk lahan kami” ungkapnya.

Namun kata dia, setelah menunjukkan bukti kepemilikan sebenarnya, akhirnya pihak perusahaan juga merasa tertipu oleh oknum yang menangani ganti rugi terhadap ribuan hektare lahan tersebut, lantaran dana ganti rugi tidak sampai ke masyarakat, dan ternyata diketahui oknum yang mengatasnamakan perangkat desa diduga bukanlah perangkat desa Cinta Jaya, melainkan orang dugaan suruan kades.

Untuk menemukan titik terang permasalahan ini, kata Hamidi dan teman-temanya, pihaknya sempat menemui Kades.

“Dalam kesepakatan kades teranyata mau mengganti rugi lahan kami dengan harga Rp 800 ribu per hektare, padahal jelas-jelas kami ketahui dari perusahaan ganti rugi tersebut Rp 2,5 juta per hektare, jadi kami tidak mau, dan kami ingin tanah kami mau dikembalikan, karena ini menyangkut hak kami, dan kades sendiri jelas-jelas sudah melakukan tindak pidana karena menjualkan tanah kami tanpa sepengetahuan, dan bukan wilayahnya”  ungkapnya.

Perangkat desa Pedamaran 5, Padli, tak menapik kalau lokasi Sukoperno, merupakan wilayah Pedamaran 5, dan bukan merupakan wilayah Cinta Jaya.” Kami baru tahu setelah tanah tersebut sudah diganti rugi, kami merasa kecolongan” ungkapnya.

Harapan para pemilik lahan tersebut, meminta lahan yang dijualbelikan kades dapat segera dikembalikan seperti sedia kalah” Kami tidak mau ganti rugi, kami ingin minta kembalikan lahan kami, karena lahan itulah kami bisa makan” harap Hamidi dengan berlinang air mata.

 

TEKS  : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster