Koperasi di Sumsel Lampaui Target

 193 total views,  4 views today

PALEMBANG – Demi menunjang pertumbuhan ekonomi di Sumsel, khususnya di sektor usaha mikro kecil dan menengah, Gubernur Sumsel, Alex Noerdin mengimbau agar seluruh kepengurusan koperasi lebih meningkatkan kinerjanya.

Menurut Alex, koperasi merupakan guru perekonomian di Indonesia. Untuk di Sumsel sendiri, jumlah pertumbuhan koperasi telah melampaui target yang ada, yakni 5.790 unit atau melebihi RPJMD yaitu 4.598 unit.

Pertumbuhan jumlah koperasi diatas target RPJMD itu, dibuktikan peningkatan jumlah pelaku usaha kecil dan menengah di provinsi Sumsel. “Jumlah UMKM pada 2013 menjadi 2.002.836 unit meningkat dari 1.985.658 unit pada 2012 lalu,” katanya, Kamis (20/3).

Terkait omset usaha dari secara total dari seluruh pelaku usaha UMKM, Alex mengatakan tidak mengalami kenaikan secara signifikan. Pada 2012, omzet UMKM sebesar Rp 24,70 trilyun sedangkan pada 2013 menjadi Rp 24,72 trilyun. “Jika kita melihat konsistensi koperasi saat ini, kita bisa tahu jika lembaga koperasi bisa memanfaatkan peluang bisnis yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Menurutnya, pertumbuhan industri dan koperasi yang berbasis potensi unggulan Sumsel tentunya juga berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja dan lapangan usaha baru di Sumsel.

Sementara itu, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Sumsel bersama sejumlah pihak perbankan, ditemukan jika pemanfaatan program Kredit Usaha Rakyat di tingkat pelaku usaha mikro terbilang masih sangat minim. Pasalnya dinas koperasi mencatatkan program ini, baru dimanfaatkan oleh 25 persen UKM dari total 2 juta pelaku UKM yang ada di Sumsel.

“Penyaluran KUR, lancar-lancar saja. Tetapi masih ada kendala bunganya yang tinggi. Ini menjadi salah satu penyebab masih minimnya UMKM di Sumsel, yang menggunakan KUR,” kata Kepala Dinas Koperasi dan IKM Sumsel, Abdul Shobur.

Menurut Shobur dan juga diakui oleh beberapa praktisi perbankan, suku bunga yang diterapkan untuk program kredit usaha rakyat ini, terbilang lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga yang berlaku di pasaran.

Selain itu, faktor lain yang membuat penyaluran dana melalui program ini kurang diminati adalah kurangnya informasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh para pelaku UKM. “Makanya kita akan buat agar ke depan peran dari tenaga pendamping bisa lebih maksimal,” tukasnya.

 

TEKS            : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster