Untuk Cegah Harga Karet Turun, Petani Harus “Rapatkan Barisan”

 172 total views,  2 views today

PALEMBANG – Merosotnya harga karet membuat sejumlah petani karet di Sumsel gusar. Dinas Perkebunan (Disbun) Sumsel menghimbau para petani karet untuk “merapatkan barisan” dalam sebuah wadah kelompok tani (poktan), untuk menjaga situasi agar harga karet tidak kembali turun.

Kepala Disbun Sumsel, Fachrurozi menyebut, cara tersebut sangat efektif untuk mencegah agar harga karet tidak terus menurun. “Pada dasarnya harga karet itu ditentukan oleh pasar internasional, tapi petani bisa menaikan daya tawar mereka dengan cara membentuk kelompok dan menjual karet mereka, melalui mekanisme lelang,” kata Fachrurozi, Senin (17/3).

Cara itu jelasnya, sudah terbukti sukses diterapkan di sejumlah kabupaten dan kota di Sumsel. Diantaranya, Kota Prabumulih dan Kabupaten Muaraenim. “Kalau berkelompok, yang hendak membeli karet tentu mendatangi para petani. Bukan sebaliknya. Dengan begitu tengkulak yang biasa bermain dalam rantai perdagangan bisa terpotong,” tegas dia.

Disinggung mengenai lamanya harga karet berada pada posisi rendah, Fakhrurrozi menegaskan jika pihaknya, tidak berani berspekulasi untuk menjawab hal tersebut. “Itu tidak bisa saya jawab karena itu memang tidak ada dalam kendali kita,” ujarnya.

Kendati demikian, ia mengaku tetap menjalankan  program peningkatan produksi karet walau harga karet kini terbilang cukup rendah. “Kalau peremajaan itu akan terus kita lakukan, tahun ini kita targetkan untuk bisa meremajakan 2.500 hektare lahan karet yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Sumsel,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Perencanaan Disbun Sumsel, Dian Eka menegaskan, kebutuhan peremajaan kebun karet rakyat di Sumsel tergolong tinggi. Dari 1,2 juta hektar kebun karet yang ada, sedikitnya ada  40.000 hektare kebun karet yang perlu diremajakan.

Hal ini juga sambungnya, dibuktikan dengan banyaknya rakyat yang mengajukan permohonan untuk program peremajaan. Meski begitu, pihaknya mengakui jika alokasi APBD Sumsel terbatas sehingga tidak semua proposal petani dapat diterima.

“Memang yang mengajukan proposal peremajaan cukup banyak dan kami tidak bisa mengiyakan semuanya karena dana terbatas, tapi tahun kemarin kita alokasikan untuk 2.300 hektare,” paparnya.

Oleh karena itu, ia berharap agar program yang telah digelontorkan sejak beberapa tahun terakhir ini, bisa menjadi pemicu untuk pihak lain, termasuk perusahaan swasta melalui program tanggung jawab sosial untuk membantu mendanai peremajaan kebun karet.

Tidak hanya kepada pihak swasta, pihaknya juga tidak lupa mengajak para petani secara inisiatif untuk berkelompok dan meremajakan kebun secara swadaya. “Kami harap program Disbun ini bisa jadi trigger untuk petani secara swadaya maupun pihak lain ikut membantu peremajaan kebun,” tukasnya.

 

TEKS            : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster