Sumur Migas Ancam Keselamatan Warga

 683 total views,  2 views today

Salah seorang warga saat menunjukan sumur gas

Salah seorang warga saat menunjukan sumur gas

– Sumur BKT-56 Sukamaju
PALI –
Keberadaan sumur minyak disuatu daerah tentunya akan menambah kesejahteraan bagi masyarakat disekitarnya. Namun tidak demikian halnya dengan warga Dusun Setuntung Desa Sukamaju, Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Muara Enim.

Alih-alih membuat sejahtera, keberadaan sumur minyak bercampur gas itu justru mengancam keselamatan warga.

Sumur migas dengan nama BKT-56 itu, selain mengeluarkan minyak juga ditengarai memiliki kandungan gas yang tinggi.

Menurut sebuah sumber Kabar Sumatera, meskipun tidak disedot minyak, di sumur itu akan keluar dengan sendirinya. “Dalam dunia perminyakan sumur itu dinamakan Semburan Alam (SA). Artinya mengandung gas tekanan tinggi, jadi meski tanpa disedot, gas akan menekan minyak agar menyembur keluar,” jelas sumber tadi.

Sumur tersebut, saat ini dikelola oleh PT Techwin Benakat Timur. Sebuah perusahaan Kerja Sama Operasi (KSO) PT Pertamina EP Pendopo Fiels.

Bagi perusahaan penambang minyak, sumur semburan alam  ini tentu saja menguntungkan. Perusahaan tidak perlu susah payah untuk mengambil minyaknya. Namun bagi masyarakat dilingkungan tambang, belum tentu menguntungkan. Bila tidak ditangani dengan baik, gas yang keluar akan sangat berbahaya. Sifat gas yang mudah terbakar rentan menimbulkan ledakan.

Hal ini sudah terbukti. Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 17 Januari 2013, salah satu karyawan PT Techwin Benakat Timur (PT TBT) hampir tewas akibat terkena ledakan gas saat sedang bekerja di stasiun itu.

Roy, nama karyawan yang sedang bertugas di stasiun pada malam hari tidak menyangka bakal ada ledakan gas. Gas yang meledak mengenai wajah dan tubuhnya. Akibatnya 50 ersen kulitnya terbakar. Untung korban cepat ditangani dan dibawa ke RS Pertamina Prabumulih.

Timbulnya ledakan seperti inilah yang ditakutkan warga Talang Gas Dusun 3 Desa Sukamaju kecamatan Talang Ubi. Seperti diungkapkan Doris (34), warga Dusun Talang Gas, ia mengaku resah karena takut menjadi korban seperti yang dialami Roy tersebut.

Menurut Doris, sumur minyak dan gas BKT 56 itu setiap hari oleh warga dijadikan tempat menggembalakan sapi. Bahkan anak-anak anak-anak juga sering menggunkan tanah lapang sumur tersebut sebagai tempat bermain layangan.

“Anak-anak disini sudah terbiasa main disitu. Dan tidak ada pencegahan dari perusahaan,” ujar Doris.

Padahal, lanjut Doris, tindakan ini sangat berbahaya. Bisa saja gas yang keluar dari sumur itu bisa menyebabkan ledakan. Dan mengancam nyawa masyarakat. Apalagi sumur itu terletak persis disebelah pemukiman warga. Aktifitas di sumur itu bisa terlihat jelas dari rumah penduduk.

Meskipun keberadaan sumur itu membahayakan keselamatan warga di dusun, namun tidak ada upaya PT TBT untuk melakukan pencegahan agar tidak membahayakan warga yang berdiam disekitar lokasi.

Tidak ada pagar untuk menghalangi warga mendekati sumur juga tidak ada tulisan larangan masuk. Saat KabarSumatera mendatangi lokasi tersebut, dengan mudahnya mendekati sumur tanpa ada pencegahan. Aktifitas memotret pun bisa bebas dilakukan.

Sebuah sumber di Pertamina mengatakan, sesuai Standar Operasional Pekerjaan (SOP) untuk sebuah sumur Semburan Alam (SA) harus dipasang alat yang bernama separator. Alat ini berfungsi memisahkan cairan dan gas bumi. Melalui separator ini, cairan yang mengandung minyak akan dialirkan ke tangki penampungan. Sementara gas bumi akan dibuang dengan cara dibakar.

“Makanya sering kita temui dibeberapa sumur terdapat obor besar. Obor besar ini berfungsi untuk membakar gas yang keluar. Dengan begitu gas menjadi ama. Istilahnya Gas Flair,” jelas sumber yang enggan namanya ditulis.

Sumber itu juga menjelaskan, untuk sebuah sumur SA tidak boleh melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan percikan kebakaran atau ledakan. Karenanya, dilokasi itu harus ada larangan seperti : tidak boleh menyalakan api, menghidupakn alat listrik, menyalakan senter, menggunakan handphone dan menggunakan Kamera digital. Semua aktifitas tersebut bisa memicu ledakan.

“Apalagi kalau malam hari gas kan mengendap, kalau siang kan dibawa angin. Karenanya, saat malam sangat berbahaya sekali bila menyalakan api saat malam. Gas yang mengendap bisa menimbulkan ledakan seperti yang menimpa karyawan Techwin tempo hari,” bebernya.

“Selain membuat pagar disekeliling sumur, perusahaan hendaknya menempatkan separator untuk mengurangi dampak ledakan,” tegasnya.

Sementara itu, Humas PT Techwin Benakat Timur, Husnizar Salami saat ditemui di Kantor PT Techwin Benakat Timur memastikan pihaknya akan segera melakukan pemagaran terhadap lokasi sumur tersebut.

“Secepatnya akan kita pagar. biar masyarakat menjadi aman,” tegas Yus, panggilan akrab Husnizar.

 

Teks : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster