Perketat Pengawasan KTR

 247 total views,  2 views today

PALEMBANG – Dalam Peraturan Daerah (Perda) Palembang Nomor 7 tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), ada tujuh kawasan yang diharamkan untuk aktivitas merokok. Ke tujuh kawasan itu yakni mal, rumah makan atau restoran, tempat pendidikan, tempat bermain, tempat ibadah, angkutan umum dan kawasan sarana kesehatan.

Namun di kawasan yang masuk KTR itu, masih banyak ditemukan terjadinya pelanggaran. Karenanya menurut Kepala Seksi Penyelidikan dan Penyidikan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kota Palembang, Dedi Harapan, pengawasan terhadap KTR tersebut akan diperketat.

Sat Pol PP bekerjasama dengan Dinkes terang Dedi, sudah melakukan penertiban dan penindakan terhadap pengusaha, pengelola mal dan tempat usaha yang masuk kawasan KTR yang melanggar perda. Kami akan melakukan pengawasan ketat, seperti arena bermain anak, tempat belajar dan mengajar, tempat ibadah dan tempat yang tertutup dari udara bebas,” sebut Dedi yang dibincangi, kemarin.

Sambungnya, sejak diberlakukannya Perda KTR pada tahun 2010 lalu, sudah cukup banyak perokok yang mematuhi aturan tersebut. Tapi, tidak seluruh perokok mematuhinya. “Tempat usaha, di larang menyediakan asbak. Jika di temukan maka akan di lakukan penindakan dengan aturan yang ada,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, dr Anton Suwindro menyebut,d dari tujuh KTR,  kawasan yang banyak dilanggar ada di angkungan umum dan rumah makan. “Ini menunjukkan masih rendahnya, kesadaran masyarakat khususnya perokok untuk mematuhi Perda KTR tersebut,” jelas Anton yang dibincangi sosialisasi Perda KTR di Hotel Graha Sriwijaya, Palembang.

Anton mengaku, kesadaran perokok untuk membatasi ruang ketika merokok di tempat umum masih sangat kurang. Berdasarkan hasil riset pihak asing, kawasan yang paling di patuhi oleh para perokok kawasan mal, rumah sakit.

“Nah dengan adanya perda ini, kita hanya memberikan kesadaran kepada para perokok agar tidak merokok di tempat umum. Karena cenderung mengganggu kesehatan bagi yang tidak merokok atau perokok pasif,” bebernya.

Selain itu menurut Anton, masih tingginya perokok di Indonesia disebabkan tidak adanya, gambar bahaya merokok pada bungkus rokok tersebut,  hal ini berbeda halnya dengan produk rokok dari luar negeri.

Di luar negeri, pada produk rokok yang diedarkan dipasaran tertera gambar yang mengerikan akibat merokok. Selain itu, rokok di jual dengan harga cukup tinggi. “Di Indonesia, pada produk rokok hanya ada label peringatan bersifat tulisan saja, itu juga berada di belakang,” ucapnya.

 

TEKS            : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster