KTR Dicueki Masyarakat

 273 total views,  2 views today

PALEMBANG – Palembang sudah menerapkan kawasan tanpa rokok (KTR) sejak 2009 lalu, yang dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 tahun 2009 tentang KTR. Namun perda tersebut, ternyata banyak tidak digubris oleh masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, Anton Suwindro menyebut, tingkat kepatuhan masyarakat terhadap terhadap perda tersebut sangat rendah, yakni hanya 17 persen saja.  “Perkembangannya masih lamban. Hal tersebut disebabkan, perda terkait perubahan perilaku seperti nikmatnya merokok memang sulit berjalan. Tapi demikian, kami yakin 17 persen ini sudah menunjukkan perubahan,” kata Anton, kemarin.

Anton menjelaskan, tingkat kepatuhan terhadap perda yang mencapai 17 persen tersebut, didapat dari survey independen oleh lembaga asal Amerika Serikat, di tujuh kawasan bebas asap rokok di Palembang. Pelaksanaannya tidak melibatkan Dinkes sama sekali, karena pendanaannya bersumber dari lembaga tersebut.

“Kedepannya, tingkat kepatuhan terhadap Perda KTR ini dari 17 persen harus meningkat menjadi 40 persen. Kemudian secara bertahap menjadi 80 persen, itu bisa kita capai,” sebut Anton optimis.

Anton menambahkan, dari hasil survey yang dilakukan Kementrian Kesehatan (Kemenkes), menyebutkan satu dari tujuh kawasan yang dilarang ada asap rokok di Perda KTR, justru masih dominan perokok aktif, yakni di lingkungan pendidikan.

Diketahui, masih ada beberapa sekolah, yang luput dari pengawasan pihaknya. “Masih ada guru merokok di sekolah. Mereka boleh merokok tapi seharusnya di luar kawasan pendidikan. Ini tentu menjadi catatan di 2013 lalu,”sebutnya.

Anton mengatakan, dalam Perda KTR disebutkan ada tujuh titik lokasi dilarang merokok. Ketujuh kawasan tanpa rokok ini antara lain tempat umum, tempat kerja, tempat ibadah, arena kegiatan anak, angkutan umum, kawasan belajar mengajar, dan tempat pelayanan kesehatan.

“Tahun depan kami akan mendorong lagi kegiatan sosialisasi Perda KTR ini. Sebab, sesuai UU Kesehatan, disebutkan bahwa masyarakat membutuhkan udara bersih. Apalagi, saat ini sudah bermunculan restoran dan hotel baru yang menjadi bidikan KTR,” ujarnya.

Anton menambahkan, pihaknya meyakini dengan adanya Perda KTR ini akan ada perubahan yang lebih baik dalam perilaku masyarakat dalam merokok. “Surat edaran siap kami sebarkan lagi, untuk memberikan pengetahuan bagi perokok, bahwa ada tempat dilarang merokok,”tukasnya.

 

TEKS             : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster