Warga Biasa Ngoplos Minuman Sendiri

 549 total views,  2 views today

Salah satu lokasi pesta miras di Talang Ubi, dipenuhi sachet bungkus obat batuk

Salah satu lokasi pesta miras di Talang Ubi, dipenuhi sachet bungkus obat batuk

PALI – Menenggak minuman keras (miras), dengan car dicampur (oplosan), dengan beberapa obat seperti obat batuk nampaknya sudah menjadi hal yang biasa bagi pemuda di Kecamatan Talang Ubi, Kebupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Hal tersebut diungkapkan Aan (22), bukan nama sebenarnya, warga Talang Ubi. Menurut Aan, mencampur minuman adalah hal lumrah dilakukan para pemuja miras. Alasannya karena uang yang terbatas sementara mereka ingin mabuk-mabukan.

“Alasannya biar mabuk dengan biaya murah saja kak. Kalau duit banyak kami tidak nyampur lagi. Cukup beli miras botol besar, tapi harganya mahal Rp 47ribu satu botol,” ujar Aan, Rabu (12/3), kemarin.

Menurut Aan, untuk mendapatkan miras di Talang Ubi cukup mudah. Beberapa warung tertentu menjualnya. Para penjual tidak ragu-ragu menjualnya, meskipun botolnya disembunyikan. “Kalau kita tanya pasti ada,” ujarnya.

Banyak merek yang akrab dikalangan pemabuk yakni MH, AM, dengan harga murah Rp 17.000/botol.

Aan juga mengungkapkan, Produk MH, kemasan botol kecil kemungkinan tidak asli lagi, karena dari aroma dan rasanya sudah berbeda dibandingkan MH botol besar. “Saya curiga botol kecil itu di oplos. Karena paling laku karena murah. Pengoplosannya kayaknya dari agen besarnya. Soalnya saya beli MH botol kecil di Prabumulih juga sama,” ujar Aan.

Karena dikeroyok rame-rame, dan uangnya kurang maka botol kecil itu ditambah dengan air mineral dan beberapa obat-obatan. “Biasanya kita campur obat batuk, pil DX, Lem Aibon bahkan pakai lotion anti nyamuk. “Kalau minuman mineral  biasanya produk P. Soalnyo murah,” lanjut Aan.

Kegiatan meracik atau mengoplos ini biasanya dilakukan rame-rame di lokasi pesta miras. Untuk obat batuk  bukan dicampur tapi diminum sambil menenggak miras botolan.

“Tiga sachet sekaligus sudah mabuk om. tapi kareno rame-rame, sekali beli satu box. Demikian juga pil juga ditelan berbarengan miras,” tambahnya.

Untuk mendapatkan pil ini susah-susah gampang. Harus ada jalur khusus untuk membelinya. “Kami biasa beli satu box besar, harganya Rp500ribu. Belinya sama pegawai apotik yang nakal. Kalau beli biasa-biasa tidak bakal dikasih,” tambahnya.

Demikian juga dengan lem Aibon. Lem yang mengeluarkan bau menyengat inipun dibeli dalam skala besar. Tidak tanggung-tanggung, sekali beli sembilan box berisi masing-masing satu lusin.

Pembelian dalam skala banyak ini, karena efek fly (mabuk) dari lem ini hanya lima menit. Padahal sekali melakukan pesta menghabiskan waktu 3-4 jam.

Para pemuda menenggak minuman keras dibarengi obat-obatan ini dilakukan menjelang datang ke acara orgen tunggal. Sebelum datang ke orgen, para pemuda pesta miras terlebih dahulu. Saat malam sudah larut, barulah mereka mendatangi acara orgen.

Penuturan ini setali tiga uang dengan pengakuan Mei Kusuma, adik ipar tersangka Juhai, penjual miras yang merenggut nyawa lima pemuda itu.

Menurut Mei, kakak iparnya hanya menjual miras botolan yang belum dicampur. “Kakak saya hanya menjual miras saja. Kalau yang oplosan tidak ada,” kata Mei di warung milik kakak iparnya.

Dalam sehari, menurut Mei, kakaknya bisa menjual satu lusin minuman. “Biasanya yang membeli para remaja. Anak mudo lah,” katanya.

Kabar Sumatera sempat mengunjungi salah satu lokasi yang sering digunakan untuk pesta miras. Lokasi itu terletak di belakang SMAN 1 Talang Ubi di bilangan Talang Subur.

Lokasi yang terletak di tengah kebun karet warga itu, tampak berserakan ratusan plastik bungkus obat batuk, lima box kardus obat batuk dan beberapa botol miras merek NP.

Ada bekas sisa kayu bakar. Nampaknya sering digunakan malam hari. Dan sudah lama sering digunakan sebagai tempat pesta miras.

Diberitakan sebelumnya, lima pemuda tewas beruntun setelah menenggak miras yang dioplos. Kelima pemuda itu adalah Junaidi, Yanto, Iskandar Badri, Juli dan Agus Moreno. Dua nama terakhir bekerja sebagai TKS di Pemkab PALI. Juli di Dinas PPKAD dan Agus Moreno di RSUD Talang Ubi bagian Apoteker. Atas kasus ini, polisi sudah menetapkan satu tersangka yaitu, Juhaidi alias Juhai, warga Simpang Tiga SMA, Tebing Gopar Keluarahan Talang Ubi Selatan.

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster