Terkait Gusur Lahan dan Pencemaran Limbah Warga Tolak Kompensasi PT TBT

 348 total views,  2 views today

PALI – Pencemaran limbah berupa minyak mentah dan air asin yang menggenangi lahan warga pada 25 Nopermber 2013 lalu, nampaknya hingga kini belum terselesaikan.

Meski PT Techwin Benakat Timur telah mengucurkan dana sebesar Rp 45juta sebagai kompensasi, warga tetap tidak terima. Lahan salah gusur dan ceceran sisa limbah jadi penyebab penolakan warga

Hendri (23), warga Setuntung Dusun III, Desa Sukamaju, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI mengaku resah. Lahan seluas 10meter x 14 meter miliknya digusur paksa oleh PT TBT.  Bukan ganti rugi yang memadai yang diterimanya, lahan seluas 140M3 itu hanya diharga PT TBT sebesar  Rp 1,5juta.

“Aku tidak terima kak kalu cuma Rp 1,5juta. Tanaman aku sudah digusur alat berat tapi cuma dihargai itu. Bukan itu saja, lihat sendiri kebun karet aku mati semua karena kena limbah minyak,” ujar Hendri, Rabu (12/3).

Hendri menambahkan, dirinya tidak terima atas perlakuan Humas PT TBT yang arogan dan tidak menghargainya saat dirinya diundang ke kantor PT TBT, Senin (10/3) kemarin.

Dirinya hanya diterima di Pos Satpam tanpa dipersilahkan masuk dan diterima secara sopan. Ucapan humas itupun cenderung kasar. “Apa mau kamu terserah. Kami cuma bayar satu setengah juta saja,” ujar Hendri menirukan ucapan sang humas.

Keesokan harinya, Selasa (11/3) Hendri justru didatangi oknum tentara. Oknum tersebut memaksa dirinya agar merelakan lahannya digusur lagi. “Jelas saya tidak terima kak. Ganti ruginyo bae belom jelas,” tambahnya.

Dari pantauan KabarSumatera, Rabu (12/3) ceceran tumpahan minyak masih menempel dibatang karet yang sudah mati. Bukan itu saja, dibagian hilir dekat Sungai Setuntung sisa tumpahan minyak masih tersisa. Mengendap akibat dibawa hujan yang turun malam sebelumnya.

Kebun karet milik Hendri sendiri berada tepat disisi sumur minyak BKT-52. Sebuah sumur minyak yang dikeruk menggunakan pompa angguk (luking). Akibat bocornya salah satu pipa dari sumur itu, PT TBT mengeruk lubang besar untuk menampung tumpahan minyak. Saat melakukan pengerukan inilah, alat berat milik PT TBT menggusur lahan milik Hendri.

“Sisa minyaknya masih banyak. Seharusnya disedot memakai Vacuum Truck. Tapi cuma ditimbun saja. Otomatis saat hujan turun, minyaknya masih mengaliri sungai,” timpal Mustika, Kepala Desa (Kades), Sukamaju yang turut mendampingi warga ke lokasi.

Dimata Mustika, penanganan limbah ini juga tergolong lucu. “Perusahaan migas ini kan perusahaan besar. Lucunya, saat membersihkan limbah hanya memakai cangkul. Kan lucu. Seharusnya disedot pakai Vacuum,” ujar Mustika sambil tertawa.

Ikan Tidak Bisa Dimakan

Pengakuan mengejutkan datang dari warga lainnya. Rasyid (36) warga yang sama mengaku sudah tidak mau lagi memakan ikan yang didapat dari Sungai Setuntung. “Ikan apa saja kami tidak berani makannya,” kata Rasyid.

Ikan yang didapat dari sungai itu, lanjut Rasyid rasanya sudah berbeda. Ada rasa tanah, asin dan berasa minyak. Sehingga ia lebih memilih untuk tidak lagi makan ikan.

Humas PT TBT, Husnizar Salami, yang dihubungi KabarSumatera mengakui ada kesalahan dalam pembersihan lahan saat menangani tumpahan minyak di sumur BKT-52 itu.

“Ada tanah milik warga seluas 10mx14m tergusur tanpa sengaja. Tapi kan lahannya masih bisa digunakan. Makanya kami hanya mengganti tanam tumbuh yang terlanjur rusak, kemampuan perusahaan kami cuma Rp 1,5juta saja,” ujar Husnizar.

Belum beresnya penanganan kasus itu, lanjut Husnizar karena warga memaksakan minta ganti rugi sebesar Rp 15juta. “Jelas tidak mungkin kami penuhi. Karena sebelumnya kami sudah mengeluarkan ganti rugi sebesar 45 juta untuk gantirugi akibat limbah beberapa waktu lalu,” tambahnya.

Lagipula dalam mengeluarkan ganti rugi itu, menurut Husnizar, PT TBT harus mengacu pada pergub sebagai dasar hukum. “Pembayarannya pun dilakukan oleh pertamina. Techwin hanya melaksanakan saja” ungkapnya.

Saat ditanya tentang penanggulangan limbah, Husnizar mengaku sudah diserahkan sepenuhnya kepada PT ARMI selaku perusahaan yang berkompeten menangani limbah. “Bila masih ada sisa, yah wajar saja ada sisa sedikit. Tidak mungkin habis semua,” pungkasnya.

 

Teks  : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster