Produk UKM Harus Didaftarkan Ke HKI

 230 total views,  2 views today

PALEMBANG – Bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) saat ini cenderung menganut perilaku berinovasi dan langsung menjual produk yang telah mereka hasilkan tersebut. Pada proses itu, mereka melupakan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk melindungi karya-karya tersebut.

Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Johno Supriyanto  mengatakan UKM sekarang hanya berpikir berinovasi kemudian menjual produk tersebut. “Padahal di tengah-tengahnya ada proses pendaftaran HKI,” ujarnya, Rabu (12/3).

Johno menyayangkan perilaku tersebut. Padahal, jika UKM mengetahui dan menyadari manfaat dari mendaftarkan HKI atas suatu penemuan, maka mereka tidak akan melewatkan proses tersebut.

“Seandainya mereka mengerti manfaat pendaftaran HKI dapat menambah income pasti mereka mendaftarkannya. Sebab, jika menjual produk atau penemuan tanpa HKI, mereka tidak bisa mengambil lisensi dan royalti,” imbuhnya.

Menurut Johno, pemahaman UKM mengenai keuntungan HKI masih sangat minim. Kedua, lanjutnya, pemahaman proses pendaftaran HKI juga tergolong rendah. Padahal untuk mekanisme pendaftaran dimuat pada website Direktorat Jenderal HKI (DJHKI).

“Kalau pemahaman akan pentingnya HKI masih rendah bagaimana mereka mau mengakses ke tahap pendaftaran. Maka, keuntungan dari pendaftaran HKI itu dulu yang harus dipahami oleh mereka. Apa hak dan kewajiban yang bisa timbul dari pendaftaran HKI,” tutur nya.

Dia menyebutkan, untuk hak cipta atas suatu karya tidak perlu didaftarkan. Tapi, hak cipta diperlukan saat akan mengupload karya tersebut ke internet, misalnya Youtube.

“Bagaimana menempatkan signature mereka pada karya tersebut atau apa yang harus ditaruh di situ sehingga menunjukkan kekhasan karya mereka. Jangan sampai karya mereka justru mengambil kreasi orang lain. Pemahaman ini masih rendah, makanya berimbas pada pemahaman lain,” tuturnya.

Dia mengimbau agar para UKM dan kmasyarakat lain tidak takut mengenai masalah biaya dalam mendaftarkan HKI atas karya mereka.

“Hak cipta tidak perlu pendaftaran. Kecuali untuk pembuktian yang dilakukan di pengadilan. Jadi sebenarnya tanpa biaya,” pungkasnya.

Dia menambahkan, tingkat pemahaman terhadap manfaat dan pentingnya HKI yang masih minim tidak hanya pada lingkup UKM. Berdasarkan pengalamannya melakukan sosialisasi HKI di kalangan profesional, masih ada dari mereka yang salah membedakan mana merek, hak paten, atau hak cipta.

“Saya tidak akan pernah lelah mengedukasi pentingnya HKI di setiap level dan semua elemen masyarakat. Maka, kami selalu rutin menggelar sosialisasi baik di perguruan tinggi maupun profesional,” paparnya.

 

TEKS : AMINUDDIN

EDITOR : ROMI MARADONA

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster