Menyoal Moralitas Caleg

 60 total views,  6 views today

Pemilu tinggal beberapa bulan lagi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan siapa calon legislatif (caleg) dari 12 partai politik (parpol). Jumlahnya kurang lebih 10 juta tersebar di seluruh kabupaten kota. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menyoal kualitas caleg yang akan dipilih rakyat.

Namun yang jadi pertanyaan, seperti apakah harapan kita akan kualitas caleg mendatang? Ini harus kita tentukan sejak saat ini. Jangan sampai pemilu mendatang hanya menjadi panggung politik para caleg tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa dalam memilih caleg harus berkualitas.

Berkualitas tidak hanya diukur dari apakah terkenal, yang punya uang banyak, dan penguasa. Sebab dari pengalaman beberapa pemilu lalu banyak anggota legislatif memiliki popularitas yang luar biasa, bermodal besar, dan dari kalangan penguasa. Akan tetapi, saat bekerja nihil hasilnya. Hal itu disebabkan karena pada saat kampanye mereka hanya mengandalkan konsep, akan tetapi praktik tidak ada. Akibatnya, tidak bisa berbuat apa-apa.

Caleg harus memiliki sejumlah kriteria penilaian yang terukur agar kita tidak terjebak dengan janji manis caleg. Ujung-ujungnya nanti kita hanya bisa mengeluh ketika biaya hidup tinggi, ketika menghadapi masalah sosial. Sedangkan, para wakil kita sibuk dengan studi banding ke luar negeri. Caleg yang berkualitas, paling tidak memiliki beberapa kriteria penilaian, yaitu memiliki integritas intelektual, sosial, dan moral.

Dengan begitu kriteria yang disebutkan dapat menghasilkan caleg yang berkualitas. Harapan kita terhadap caleg yang berkualitas kemungkinan besar ada pada pemilu 2014, bisa dilihat dari segi moral dan sosial.

Dari segi sosial dan moral, sangat memungkinkan caleg akan memperjuangkan hak-hak rakyat kecil yang selama ini belum didengar dan lebih memperhatikan demi kepentingan rakyat. Karena niat dan itikad baik salah satu dari caleg akan menjadi harapan masyarakat Indonesia caleg 2014 mendatang. Sehingga menjadi wakil rakyat yang mampu memperjuangkan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi dan kelompok menjadi hal penting dikedepankan.

Menyikapi pemilu mendatang, dengan wajah caleg baru dan wajah lama, masyarakat seharusnya melakukan seleksi yang matang. Dengan kata lain, masyarakat dalam menentukan pilihan sudah seharusnya tidak mengedepankan uang, atau siapa membayar berapa, melainkan, apa yang akan dilakukan ketika caleg itu duduk di kursi kekuasaan.

Sebab salah memilih caleg pada pemilu 2014, berarti kita sedang ingin merobohlan negeri ini lima tahun mendatang. Belum lagi, sejumlah caleg wajah lama sudah demikian banyak menawarkan janji-janji palsu lima tahun lalu.

Kalau ternyata mereka mencalonkan diri, mestikah moral penipu rakyat harus tetap dipilih? Ternyata kita memang harus berhati-hati dalam menentukan pilihan. Sebab dalam 2 menit di ruang TPS akan menentukan masa depan bangsa ke depan.

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com