Eddy-Yulius Dijerat Pasal Berlapis

 284 total views,  4 views today

Mantan Wakil Gubernur Sumsel, Eddy Yusuf dan Bupati OKU Yulius Nawawi berdialog dengan kuasa hukumnya sambil menunggu jalannya persidangan di Pengadilan Tipikor Palembang, Rabu (12/3). Foto : Iwan Kristian

Mantan Wakil Gubernur Sumsel, Eddy Yusuf dan Bupati OKU Yulius Nawawi berdialog dengan kuasa hukumnya sambil menunggu jalannya persidangan di Pengadilan Tipikor Palembang, Rabu (12/3). Foto : Iwan Kristian

PALEMBANG – Setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi dana bantuan sosial (Bansos) OKU 2008 dan dijebloskan ke balik jeruji penjara di Lapas Pakjo, akhinya mantan Wakil Gubenur (Wagub) Sumatera Selatan (Sumsel), Eddy Yusuf dan Bupati Ogan Kombring Ulu (OKU), Yulius Nawawi, menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Palembang, Rabu (11/3).

Persidangan keduanya, mendapatkan perhatian besar dari masyarakat. Ruang pengadilan tempat menyidangkan keduanya, dipenuhi oleh keluarga Eddy Yusuf dan Yulius, sekelompok masyarakat dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab OKU.

Pengamanan sendiri, terbilang ketat. Sejumlah petugas kepolisian terlihat berjaga-jaga dan mengawal keduanya. Eddy dan Yulius, menginjakkan kaki di Pengadilan ipikor Palembang dengan diantar mobil tahanan Kejati Sumsel. Sebelum menjalani sidang, keduanya mengenakan rompi oranye yang bertuliskan tahanan korupsi di bagian belakangnya.

Begitu turun dari mobil, Eddy dan Yulius langsung disambut keluarga yang sudah terlebih dahulu berada di Pengadilan Tipikor Palembang. Tampak, Yulius menjabat tangan isterinya, Rumialis, yang tak kuasa menahan tangis melihat suami berjalan tergopoh menuju ruang sidang. “Ibu yang tabah, ya. Bantu doa saja,” kata Yulius sembari menepuk bahu isterinya disaat sang isteri mencium tangan suaminya.

Hal serupa dialami Eddy. Suzana, isteri Eddy, langsung menghampiri suami begitu Eddy turun dari mobil. Sementara di dalam ruangan sidang, sejumlah kerabat keduanya juga hadir memberikan dukungan.

Saat duduk di kursi pesakitan, Eddy Yusuf tampak tenang menjalani sidang perdananya ini. Bahkan, ia sesekali menatap wajah jaksa yang tengah membacakan dakwaan untuk dirinya.  Ketenangan Eddy, berbanding terbalik dengan Suzanna, sang isteri. Suzana yang menyaksikan sidang dari kursi penonton nomor empat, tampak khusyuk menyaksikan jalannya sidang. Mulutnya komat-kamit tanpa mengeluarkan suara.

Sementara tangannya diapitkan di kedua bagian lutut dengan posisi bahu dicondongkan ke depan. Karena masih harus menunggu usainya sidang Yulius, Eddy menunggu di luar. Ia terus ditemani sang isteri duduk di luar ruang sidang.

Momen ini dijadikan kesempatan untuk kerabat Eddy menjenguk Eddy secara langsung. Tak heran, Eddy dan Suzana dikerumuni rekan yang rindu ingin melihat wajah Eddy. “Kita jalani saja sesuai dengan prosedur hukum. Yang pasti, saya tetap merasa tidak bersalah,” kata Eddy.

Berbeda dengan Yulius, saat menjalani sidang nampak dirinya sering kali batuk. Sesekali, terdengar suara bersin dari pria berusia hampir berkepala tujuh itu. Wajah Yulius juga pucat dan tatapan matanya tampak sayup. Tak jarang, sapu tangan yang tersimpan di saku celananya digunakan Yulius untuk menyeka hidungnya.

“Memang kondisinya mengalami penurunan selama berada di Rutan Pakjo Palembang. Ia merasa kurang nyaman, karena keadaan rutan yang sumpek ditambah dengan usianya yang sudah uzur,” kata Bahrul Ilmi, kuasa hukum Yulius.

Dalam persidangan tersebut, Eddy dan Yulius sama-sama dijerat pasal berlapis oleh jaksa, Bima Putra Yoga. Adapun pasal yang di dakwakan adalah pasal 2 sebagai dakwaan primer dan pasal 3 sebagai dakwaan sekunder.

“Dari berkas di penyidikan dan keterangan saksi sekaligus terdakwa sebelumnya, kedua terdakwa sama-sama menyetujui pencairan anggaran Bansos OKU 2008. Dari pencairan itu, Rp 9 milar lebih diketahui masuk dalam rekening masing-masing terdakwa,” kata Bima, yang membacakan dakwaan bergantian dengan rekan-rekannya.

Dilanjutkan Bima, persetejuan pencairan Bansos OKU 2008 dinilai tidak benar karena Yulius dan Eddy sudah mengetahui dana itu akan digunakan untuk kepentingan kampanye. Padahal, dana Bansos tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi atau pun suatu kelompok.

Terkait dakwaan jaksa, kedua penasehat hukum dari Eddy dan Yulius mengajukan eksepsi. Husni Chandra, kuasa hukum Eddy, meminta waktu sepekan untuk mengajukan eksepsi. Sebelum mengajukan esepsi, Husni melayangkan surat penangguhan penahanan kepada majelis hakim tipikor. “Kita pelajari dulu berkasnya. Jadi, belum bisa diputuskan sekarang,” kata majelis hakim tipikor yang diketuai Ade Komarudin.

Sama halnya dengan Husni,  kuasa hukum Yulius, Bahrul juga melayang eksepsi. Bedanya, Bahrul langsung mengutarakan eksepsinya terhadap dakwaan Bima. Dikatakan Bahrul, terdapat banyak kesalahan dari berkas dakwaan yang dibacakan Bima dan rekan-rekan. Salah satunya, kesalahan penulisan tahun kelahiran Yulius.

“Kalau ada kesalahan penulisan dalam berkas, seluruh dakwaan harus dinyatakan bebas demi hukum. Dari pembacaan tadi, ada banyak poin yang terdapat kesalahan,” kata Bahrul.

Diletakkannya Yulius di dalam Rutan Pakjo Palembang juga dijadikan bahan esepsi oleh Bahrul. Menurutnya, penahanan atau pun penyidikan terhadap seseorang yang masih berstatuskan pejabat aktif haruslah mendapat izin dari presiden terlebih dahulu.

Setahunya, Polda Sumsel selaku tim penyidik belum mengantongi izin dari presiden untuk melakukan penyidikan terhadap Yulius, yang tercatat sebagai Bupati OKU aktif. “Untuk itu, kita meminta majelis hakim untuk objektif dengan membebaskan Yulius dari segala dakwaan jaksa,” kata Bahrul.

Belum ada tanggapan dari Bima dan rekan terkait eksepsi Bahrul. Bima dan rekan-rekan meminta waktu sepekan, untuk memberikan tanggapan dan permintaan itu diamini majelis hakim

 

TEKS            : OSCAR RYZAL

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster