Dua Perusahaan Ayam Gulung Tikar

 173 total views,  2 views today

– Permintaan Masyarakat Menurun Hingga 30%

PALEMBANG – Asosiasi Masyarakat Perunggasan Sumsel menyebutkan pada awal tahun ini ada dua perusahaan skala besar dengan produksi ayam potong rata-rata 100.000 per bulan gulung tikar. Penyebabnya lantaran terjadinya penurunan permintaan (demand) masyarakat akan daging ayam potong yang terjadi sejak dua bulan terakhir.

“Jika dua pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Masyarakat Perunggasan Sumsel gulung tikar, berarti saat ini masih ada 10 lagi kemitraan (pengusaha) yang masih melakoni bisnis ternak unggas ini yang tersebar di daerah Sumsel. Sudah dua bulan terakhir ini demand akan ayam potong menurun hingga 30% lebih,”kata Ketua Asosiasi Masyarakat Perunggasan Sumsel, Ismaidi Chaniago, kemarin.

Disamping turunnya demand masyarakat akan daging ayam potong, kata dia, indikator lain yang mempengaruhi terhentinya produksi perusahaan ayam tersebut yakni harga jual ayam potong yang cenderung rendah.

Dia menyebutkan untuk harga kandang saja dijual sekitar Rp11.500 per ekor (utuh). Sementara untuk modal awal atau modal ambil saja bisa mencapai Rp18.000 per ekor.

“Seharusnya harga kandang dijual lebih tinggi dari harga modal awal. Jika terus-terusan seperti ini, kami khawatir akan banyak kemitraan yang gulung tikar. Jadi sekarang ini siapa yang memiliki modal kuat tetap akan bertahan,”terangnya.

Secara komprehensif, kata dia, total produksi ayam potong di Sumsel mencapai 5juta ekor per bulan dengan asumsi produksi sekitar 160.000-180.000 ekor per hari dengan tingkat kebutuhan daging ayam sekitar 120.000 ekor per hari.

“Bayangkan saja sekarang ini terjadi penurunan permintaan sekitar 30% dari kebutuhan daging per hari. Kami tidak bisa memastikan kapan kondisi ini kembali normal. Semua tergantung dari permintaan pasar,”ujarnya.

Dia memproyeksikan kebutuhan daging ayam akan membaik, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran mendatang. Bahkan harga daging ayam potong berpotensi tinggi hingga mencapai Rp 40.000 per kg.

“Tidak menutup kemungkinan jika permintaan berangsur tinggi, namun pasokan cenderung menipis, maka dipastikan harga daging ayam potong perlahan merangkak naik. Ya, kalau sekarang harga daging ayam potong dijual berkisar Rp 24.000-Rp 25.000 per kg,”jelasnya.

Sementara itu, sejumlah pedagang di pasar tradisional Palembang mengaku kalau untuk harga daging ayam potong cenderung mengalami penurunan dari Rp 28.000 per kg menjadi Rp 24.000 per kg. Kendati mengalami penurunan harga, namun permintaan akan daging ayam juga sangat rendah.

“Sebenarnya harga daging ayam turun sudah sejak beberapa pekan lalu karena sepinya pembeli. Ya, harga ayam sudah turun, tapi justru tidak diimbangi dengan tingginya permintaan. Malah demand akan daging ayam semakin merosot tajam,”jelas Beti, pedagang Km 5 Palembang.

Setali tiga uang, Titin, pedagang Pasar Sekanak juga mengaku penurunan harga daging ayam ini sudah berlangsung sejak dua pekan lalu lantaran turunnya harga dari pemasok (agen).

“Secara detailnya kurang tahu apa penyebab turunnya harga daging ayam ini. Walau harga turun, tapi permintaan cenderung masih di bawah normal atau rata-rata penjualan. Biasanya dalam sehari bisa membawa Rp 500.000, kini hanya Rp 300.000. Bisa dikatakan sejak awal tahun sampai saat ini permintaan cenderung biasa saja dan belum ada peningkatan berarti,”katanya.

 

TEKS : ROMI MARADONA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster