Calon TKI Disekap dan Dianiaya

 326 total views,  2 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

PALEMBANG – Suryati (35), calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang akan mengadu nasib di Hongkong dianiaya oleh salah satu oknum pengajar di salah satu biro penyalur tenaga kerja ke luar negeri di Mess Citra Tanjung Harapan, Blok D, Nomor 17, Kecamatan Kenten, Palembang.

Tidak hanya mengalami penganiayaan, warga Tanjung Raja ini juga mengalami penyekapan selama empat bulan. Tidak ada Sryati, ada puluhan wanita asal Sumatera Selatan (Sumsel), yang juga mengalami nasib yang sama.

Korban Suryati akhirnya melaporkan kejadian yang menimpa dirinya ke Mapolsekta Palembang, Senin (10/3) yang tertuang dalam laporan polisi nomor LP/B-648/III/2014.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban dijemput Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Palembang dari lokasi kajadian, setelah pihak kepolisian menerima surat korban yang mengaku telah dianiaya dan ingin melapor, namun tidak bisa keluar.

“Tidak tahu dikirim melalui apa, tapi kami langsung diperintahkan untuk menjemput di lokasi seperti yang disebut korban. Setelah dibawa ke sini (Polresta) baru membuat laporan terkait penganiayaan itu bersama beberapa rekannya yang menjadi saksi,” ujar polwan yang namanya enggan disebutkan, Selasa (11/3).

Sementara itu, saat ditemui di Ruang Unit PPA Polresta Palembang, korban Suryati menuturkan dirinya sudah empat bulan berada di penampungan, namun tidak kunjung diberangkatkan ke Hongkong dan dianiaya oleh pengajar. Dengan alasan pelaku kesal, karena dianggap kurang ajar.

“Padahal, sebagai seorang guru sekesal apapun tidak perlu main tangan dan walaupun menurutnya muridnya ini kasar dan kurang ajar. Tetap saja tidak boleh main tangan,” tuturnya.

Selain itu, selama dipenampungan dirinya dan sekitar 40 orang calon TKI lain, telah diperlakukan tidak wajar. Selain diminta membersihkan seluruh mess. “Setelah bangun pukul 4.30 WIB pagi disuruh bersih-bersih dan memasak. Setelah siang diminta membuat kandang ayam, mengecat di sekitar penampungan,” imbuhnya.

Sementara itu, Merry, pengelola dari perusahaan jasa tenaga kerja yang dipanggil ke Mapolresta Palembang enggan memberikan komentar saat ditemui. Bahkan, langsung meninggalkan awak media, menggunakan mobil Toyota Kijang Innova warna silver.

Sedangkan saat dikonfirmasi pihak kepolisian tidak memberikan komentar banyak. Lantaran perkara ini masih dalam penyelidikan. Hanya disebutkan bahwa perkara yang ditangani tersebut merupakan penganiayaan antar personal antara korban dan terlapor.

“Tadi (kemarin) pengelola datang mengurus serta memang ada jaminan penangguhan, karena harus kembali mengajar, namun proses perkara penganiayaan tetap dilanjutkan, selebihnya langsung sama Kasat,” tegas AKP Eddi Rahmat, Wakasat Reskrim Polresta Palembang.

 

Teks : Oscar Ryzal

Editor : Junaedi Abdillah

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster