Golput Pemilu 2014, Parasit Bangsa

 282 total views,  2 views today

Oleh M. R. Aulia

“Begitu banyak orang yang tetap memperjuangkan ketidakmungkinan hadir dalam kehidupan ini”.

Tidak kurang dari sebulan lagi, pemilu 2014 akan segera digelar. Berbagai kandidat calon maupun partai siap bertempur dan bersaing demi mendapatkan perolehan suara yang signifikan. Menjadi wakil-wakil rakyat yang baru untuk periode mendatang. Membawa aspirasi masyarakat yang selalu ada dan pasti terus ada. Menebar inspirasi sehingga terwujudnya negara dan daerah masing-masing yang penuh dengan harmoni. Menenangkan dan menggerakkan.

Wakil rakyat dengan rasa percaya diri mereka untuk mengemban tugas tidak terlepas dari peran masyarakat yang akan memilihnya. Wajah parlemen atau wajah negara sebesar Indonesia ini akan ditentukan pada tanggal 9 April mendatang. Memilih wakil-wakil rakyat atau calon pemimpin lima tahun mendatang bukan saja sebagai hak masyarakat Indonesia, melainkan beralih menjadi kewajiban yang harus ditunaikan.

Tugas masyarakat Indonesia yang harus dilakukan tanpa harus dipaksakan, akan tetapi sifatnya dibebaskan. Pemaksaan yang dimaksud adalah agar memilih satu dari sekian banyak peserta pemilu. Dibebaskan untuk memilih siapa saja yang sesuai dengan standar, selera, kriteria bahkan keinginan hati para calon pemilih masing-masing.

Rasa kebanggaan untuk tidak memilih adalah perilaku parasit. Parasit yang akan menggerogoti dan mendukung percepatan kehancuran negeri ini bila keadaanya negara ini dipegang oleh orang yang salah. Tingkah mereka bisa dilihat dari cara mereka tertarik atau tidak dengan politik. Mereka yang katanya mengerti dan memahami serta menyadari segala sendi kehdiupan ini, sejatinya tidak akan pernah terlepas dari proses politik. Tetapi dengan bangganya mengekspresikan diri sebagai bagian dari para kaum golongan putih. Kebanggaan tersebut bukanlah hal yang pantas untuk disebarluaskan. Memilih satu sosok atau partai yang mendekati kriteria dan selera.

Kalau hanya menunggu persis dengan selera dan kriteria pribadi kita masing-masing, cepat-cepatlah keluar dari panggung dunia ini. Dunia akan selalu tercipta di atasnya pertentangan antara plus dan minus. Mengharapkan plus akan selalu dominan, tentu tidak akan mungkin, begitupun sebaliknya. Fluktuasi tersebut memang cara yang maha kuasa menguji kita, sampai sejauh mana kita bisa bertahan. Hidup adalah pilihan. Harus memilih yang mana yang lebih mendekati.

Pemilu yang dianggap mereka yang tidak memilih lebih dari sekedar rasa seketika yang ingin mereka peroleh. Memilih seseorang atau satu partai dengan mengharapkan sesuatu materi yang ingin cepat didatangkan. Pragmatisme telah menghantui sebagian besar penghuni negara ini. Lain halnya bila mengharapkan sesuatu yaitu cita-cita bersama dalam membangun negeri ini. Menitipkan dukungan kepada sosok yang memiliki potensi untuk mengembangkan cita-cita dan harapan bersama, sehingga benar-benar terwujud nyata.

Pemimpin yang diorbitkan melalui pemilihan tersebut sejatinya hanya simbol atau titik kecil yang mempunyai keberanian membawa pesan. Dan yang paling menentukan adalah jutaan orang yang berada di balik mereka dan juga di balik simpul senyum sang presiden dan wakilnya yang terpasang dalam frame-frame di berbagai ruangan di Indonesia. Kitalah sebagai masyarakat atau publik Indonesia yang menentukan itu semua.

Sepintar dan sehebat apapun pemimpin tersebut bila pendukungnya atau masyarakat yang sedang dipimpinnya tidak mengamini rencana kerja, visi-misi, dan program-program yang akan diberlakukannya, maka inilah peluang melawan petuah nothing is impossible. Tidak ada yang tidak mungkin. Siapa bilang? Begitu banyak orang yang tetap memperjuangkan ketidakmungkinan tersebut hadir dalam kehidupan ini.

Sebagaimana Tuhan dalam salah satu firmannya, ia tidak akan mengubah suatu kaum, sampai kaum tersebut dapat mengubah itu sendiri. Dengan kata lain, bila masyarakat atau publik suatu negara dapat bergerak secara bersama-sama menuju perubahan yang sama-sama diharapkan, ketidakmungkinan akan menjadi kemungkinan. Kemungkinan yang memiliki nilai yang sangat mendekati seratus persen kenyataan.

Salah satu tindakan kongkrit bersama-sama menuju perubahan yang diharapkan tersebut adalah ikut berpartisipasi aktif dalam memilih calon dan partai yang mendekati selera. Tentunya selera yang bertanggung jawab, bukan selera coba-coba. Bila tidak juga memilih dan alasan tidak memilih karena prinsip bukan karena teknis, jangan coba-coba untuk berharap lebih kepada pemimpin terpilih di masa yang akan datang.

Pada akhirnya memilih pemimpin yang mendekati selera dan kriteria masing-masing tidaklah cukup, melainkan terus membantu pemimpin yang telah diorbitkan melalui pemilu tersebut agar terus berjalan sesuai dengan visi dan misinya.

Bukan mendiamkan saja, kecewa dalam hati, menggosipkannya, menyesal memilihnya, atau hanya menyalahkan dan mematahkan semangat mereka dalam memperbaiki negara ini, ketika sekali saja mereka terjebak di jalan atau cara yang salah lalu melupakan arah dan tujuan yang sebenarnya. Akan tetapi, cobalah mengerti bagaimana pemimpin tersebut tetap dijalannya dan memberikan kesempatan padanya untuk berdiri, melangkah membawa pesan yang kita titipkan padanya. Karena mereka juga sama seperti kita. Manusia yang terkadang salah jalan dan nyasar. Cobalah mengingatkan dengan cara yang sepadan, bukan memadamkan segala upaya yang pernah dilakukannya. Jauh-jauh hari sebelumnya.

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster