Jangan Eksploitasi Anak Kami

 172 total views,  4 views today

Foto-gagasan--Pustrini-Hayati

 Pustrini Hayati, S.Pd.I,

Mantan Guru Honor dio OKU Selatan

Mencermati acara anak-anak di televisi swasta, ada banyak hal yang kemudian membuat miris sebagian orang tua. Ada deretran tema cinta yang seharusnya belum layak dikonsumsi anak-anak. Tetapui faktanya hampir semua tekevisi membuat program serupa, tanpa mempertimbangkankan efek baik dan buruk bagi pertumbuhan jiwa anak.

Tema cinta boleh saja dimunculkan dalam lagu-lagu yang menjadi bagian kompetisi tarik suara, seperti dalam sejumlah program di televisi. Namun tema cinta tidak harus ’memperkosa’ pola pikir dan mentalitas anak yang terkesan’memaksa’ dewasa belum saatnya.  Menurut saya, akan lebih baik bila tema cinta diarahkan pada kecintaan terhadap Tuhan, orang tua, keindahan alam, hubungan sesama manusia dan lain sebagainya.

Kita masih ingat dengan lagu Sepatu Kaca, Pelagi-Pelangi, Berhitung, Lihat Kebunku, Diobok-obok, Pahlawanku dan lain sebagainya. Ada upaya menanamkan nilai-nilai ketuhanan, nasionalisme, kecintaan, kepatutan, etika terhadap alam. Saya pikir, dengan tema-tema seperti ini tidak akan mengurangi esensi dan keindahan kemasan acara tersebut. Justeru sebaliknya, ini merupakan awal dari penanaman kecerdasan dalam diri anak untuk lebih kenal dengan alam sekitarnya, tanpa harus ’memerkosa’ hak kreatitas anak-anak.

Tetapi sebaliknya, bila tema-tema cinta yang disodorkan pada anak sudah mengarah pada puberitas remaja, sementara secara mental belum siap menerima pesan dari sebuah lagu, ini kemudian menjadi bagian dari ’kejahatan’ orang dewasa, dengan membiarkan ideologi anak ’teracuni’ oleh persoalan yang semestinya belum layak dikenal mereka.

Masalahnya bukan anak tidak boleh mengenal masa puberitas dan tema cinta remaja, tetapi sekali lagi ini berkaitan dengan nilai-nilai kepatutan sekaligus proses pendidikan yang harus dilakukan secara bertahab. Saya khawatir, bila tahapan pendidikan mental dan ideologi anak tidak berjalan secara alamiah (step by step),  besar kemungkinan akan berakibat pada terjadinya lompatan pemikiran, yang justeru akan merusak mentalitas anak itu sendiri.

Oleh sebab itu patut menjadi catatan, acara apapun bukan kemudian hanya didasari oleh target rating pemirsa dan keuntungan material belaka, melainkan juga mempertimbangkan terhadap nilai-nilai yang akan membentuk mentalitas anak bangsa ini di masa mendatang.

Hal lain yang menjadi catatan saya, keinginan orang tua terhadap keterkenalan anak. Dalam banyak hal, acara Idola Cilik, Bintang Kecil, dan sejenisnya secara tidak langsung telah memberi pengaruh besar terhadap minat dan keinginan orang tua, agar anaknya bisa seperti artis yang terkenal, menjadi public figur, sekaligus menangguk materi dari tarik suara.

Masalahnya kemudian, ini kemauan dan keinginan anak, atau kemauan orang tua? Bila kemudian didasari oleh keinginan orang tua, tidak salah bila tindakan ini kemudian menjadi bagian eksploitasi tehadap anak. Mengapa? Sebab, dengan acara yang kejar tayang, akan mengurangi waktu bermain bagi anak. Dalam teori belajar dan pendidikan kejiwaan, dalam menanamkan nilai-nilai anak menerapkan belajar sambil bermain (leaning by doing), bukan bermain sambil belajar (doing by learning).

Keinginan orang tua terhadap keterkenalan anak, boleh jadi menjadi bagian upaya dalam mengembangkan potensi dan kretifitas anak. Mendorong dalam mengembangkan kreatifitas anak menjadi salah satu bagian tanggungjawab orang tua, tetapi bila kemudian upaya ini tidak mempertimbangkan kesesuaian perkembangan kejiwaaan dan mentallitas anak, justeru akan menjadi kejahatan orang dewasa terhadap anak. Sebab, ada sebagian orang tua yang menyertakan anaknya ikut dalam acara pemlihan bintang cilik, hanya didasari keuntungan materi, bila kelak anaknya dalam usia dini sudah menjadi artis terkenal. Bayangkan saja, bila satu kali show saja seorang artis bisa dibayar antara 5 sampai 20 juta rupiah. Ukuran anak usia 12 tahun sudah mendapat passive income sebesar itu? Siapa orang tua yang tidak tergiur dengan gelimang materi itu? Tetapi apakah dengan menyodorkan anak menjadi artis terkenal, tanpa mempertimbangkan kesesuain antara nilai-nilai kejiwaan dan pertumbuhan mentalitas anak menjadi bagian dari kejahatan orang dewasa? Ini yang menurut saya patut menjadi catatan bagi orang tua, bukan saja di dalam keluarga tetapi di sekolah, di lingkungan sekitar dan di media massa, sehingga proses pendidikan mentalitas anak bangsa ini bukan dibebankan pada institusi pendidikan sekolah semata, melainkan menjadi bagian tanggungjawab seluruh orang dewasa di negeri ini.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster