Korban Mortir Dirawat di RSMH Palembang

 254 total views,  4 views today

PALEMBANG – Dua korban meledaknya mortil di kawasan Kelurahan Sepancar Lawangkulon, Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komring Ulu (OKU) kini mendapatkan perawatan intensif di dua rumah sakit Palembang, Kamis (6/2) sore.

Salah seorang korban, Anita (10), bocah Sekolah Dasar (SD), masih tergolek lemas di Ruang Emergency Rumah Sakit Muhammad Hosein (RSMH) Palembang.

Selama berada di sana, Anita dijaga oleh kakeknya, Sarnoto (58). Secara fisik, kondisi Anita terlihat sehat. Luka lebam di bagian pelipis mata kanannya memang masih terlihat bengkak. Namun, Anita sudah bisa membuka mata kananya tanpa merintih kesakitan.

“Sebelumnya, ia masih kesulitan membuka mata setelah terkena serpihan mortil yang meledak di rumahnya. Kini, ia sudah bisa membuka mata tanpa merintih kesakitan,” kata Sarnoto.

Meski terlihat sehat, kondisi psikis Anita tampaknya belum terlalu prima. Memang, Anita tidak menangis sejak dirawat di Ruang Emergency RSMH Palembang. Hanya saja, gadis mungil ini terus berdiam diri tanpa berbicara sepatah kata pun.

Matanya sesekali terpejam seakan mencoba untuk tidur. Namun, tak lama kemudian, matanya kembali terbelalak lebar memandang langit-langit Ruang Emergency RSMH Palembang.

“Ia memang jarang bicara sejak kejadian itu. Mungkin, masih trauma setelah adanya kejadian itu,” kata Sarnoto.

Sementara ibu Anita, Endang Sumarsih (29), dikabarkan menjalani perawatan di RSUD Bari Palembang begitu tiba di Palembang, Kamis (6/3) malam.

Semula, ia direncanakan dirawat di RSMH Palembang bersama Anita. Namun, karena kamar penginapan di RSMH penuh, Endang dirawat di RSUD Bari. Selang berapa jam kemudian, Anita menyusul ibunya dirawat di sana.

“Ibunya menderita luka di paha kanan dan luka lebam di kepala. Kondisinya cukup sehat dan dalam keadaan sadar. Sementara Irwanto tidak dibawa ke Palembang,” kata Sarnoto.

Sarnoto terlihat cukup sibuk menemani cucunya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Tanpa henti, pria yang sehari-hari kerja sebagai petani ini mengipasi tubuh Anita dengan koran. Tugasnya sedikit ringan saat anggota keluarganya yang lain datang menyusul.

Diungkapkan Sarnoto, Irwanto selaku ayah dari Anita memang sering membawa benda-benda menyerupai mortir ke rumah. Mortir itu diambil Irwanto dari lapangan udara yang ada di sekitar rumahnya.

Namun, Irwanto bukanlah satu-satunya masyarakat sipil yang sering mengambil mortir yang sudah diledakkan terlebih dahulu. Masih kata Sarnoto, masyarakat di kediaman Irwanto juga sering mengumpulkan mortir di lokasi tersebut.

“Bahkan, ada yang sudah pernah tewas karena ledakan mortir. Namun, masih ada saja yang mengambil mortir yang sudah diledakan,” kata Sarnoto.

Setelah kejadian ini, lanjut Sarnoto, Irwanto sekeluarga kemungkinan besar akan tinggal di rumah Sarnoto. Meski kediaman Irwanto tidak hancur total usai kejadian ini, namun rumah Irwanto tetap tidak bisa ditempati karena kepentingan olah TKP.

“Untuk sementara tinggal di rumah saya dulu. Rumah saya dengan rumah Irwanto memang sedikit jauh,” kata Sarnoto.

 

Teks        : Oscar Ryzal

Editor     : Junaedi Abdillah

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster