Pengakuan Istri Kades Pagar Dewa

 220 total views,  2 views today

KAYUAGUNG – Raut wajah Kartini (30) masih terlihat  pucat dengan mata yang bengkak. Dia masih berkabung dalam suasana duka atas kepergian suami tercinta Kunci Rahman, yang tewas ditangan bocah belasan tahun beberapa waktu lalu.

Didampingi bibi, kakak iparnya serta keluarga yang lain. Seraya merasa dipojokkan oleh pengakuan kedua tersangka, yang membunuh karena terpaksa akibat dianiaya oleh kades. Kartini mengulas kembali kejadian yang menimpa suaminya. Saat itu dia melihat langsung terjadinya pertikaian antara suaminya dengan kedua tersangka Hasan dan Hanafi.

Kata Kartini, saat itu Tarno datang ke rumah kades untuk menyelesaikan permasalahan lahan antar dia dengan kedua tersangka yang saling klaim kepemilikan lahan tersebut.

Tersangka memang kata Kartini, sudah lebih dulu mendatangi rumah kades, namun saat itu kades tidak ada di rumah. “Dia (tersangka-red) pertama kali juga datang, nanya ke adik saya Dian, kata dia ada pak kades dak? Dijawab adik saya, pak kades tidak ada, akhirnya keduanya pulang,” terang Kartini.

Sejurus kemudian, ujarnya melanjutkan Pak Tarno, datang bersamaan dengan kedua tersangka untuk mengurus tanah tersebut.” Saat ditemui pak kades, pak kades mengatakan, mengapa kamu mau ambil tanah pak Tarno, kan dia beli tanah itu. Namun karena mereka ngotot mempertahankan bahwa itu tanahnya. Pak kades, meminta agar kedua anak tersebut mendatangkan orang tuanya saja, karena keduanya masih anak -anak dan tidak bisa diajak berurusan. Namun keduanya masih tetap tidak mau.

Akhirnya kades meminta bukti untuk menunjukka surat kepemilikan tanah itu. Namun keduanya tidak mampu membuktikan. Kades pun akhirnya kembali memerintahkan kedua anak itu, untuk pulang, sambil menempelkan tangan ke pipi Hanafi, bukan menampar” jelasnya.

Namun hal yang dilakukan kades sepertinya tidak diterima oleh keduanya hingga mereka terjadi percekcokan satu sama lain. ” Saat itu sempat terjadi percekcokan di halaman rumah kami, saya melihat suami saya itu tanganya dipegangkan dua kakak beradik itu, sampai sempat tersungkur di mobil strada yang saat itu ada di rumah, secara spontan suami saya sudah bersimba darah.” ungkapnya.

Dilanjutkannya, melihat kondisi tersebut dia, yang saat itu sambil menggendong anaknya. Langsung memberikan anaknya ke kakak iparnya. Untuk menyelamatkan sang suami, dengan menjerit histeris minta pertolongan.” Kami bawah almarhum ke puskesmas, namun nyawanya tidak bisa terselamatkan, dia meninggal diperjalanan” ujarnya meneteskan air mata.

Dalam hal ini, Kartini membantah suaminya melakukan penganiayaan, apalagi memiliki senpi” Suami saya tidak punya pistol, itu bohong, kalau memang ada. Tentu dia bisa membela diri” tambah Hj Dewi Asri bibi kades.

Hj Dewi, mengatakan dirinya sangat shok dengan kematian keponakannya. Begitu mendapat kabar itu. Dia yang bertempat tinggal di Palembang, langsung pulang ke kampung halaman di Pagar Dewa. Menurut dia, sosok kades Pagar Dewa, dikenal sebagai pribadi yang baik dan tidak banyak ulah. Dia juga sering menolang masyarakat. Atas kepergiannya warga merasa kehilangan sosok pemimpin desa yang dua priode terpilih di desa tersebut.

“Saya sangat kehilangan almarhum, padahal dia orangnya sangat baik” katanya menangis.

Akibat kematian suamunya. Kartini kini menyandang status janda dengan tiga.” Anak saya tiga, pertama umur 10 tahun, kedua 4 tahun, ketiga 1 tahun” katanya.

“Kami dari keluarga sangat terpukul atas kematian suami saya. Kami juga meminta kepada penegak hukum agar kedua tersangka dihukum seumur hidup” tandasnya.

 

TEKS        : DONI AFRIANSYAH

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster