Prahara Sawit di OKI

 207 total views,  2 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

LAGI-lagi seperti yang banyak diprediksi banyak orang. Tragedi berdarah yang berkaitan dengan sengketa sawit seperti bom waktu dan tinggal meledak saja benar-benar terjadi di Kabupaten  Ogan Komering Ilir (OKI). Akibatnya beberapa hari lalu, tiga orang korban dinyatakan tewas dan dua orang kritis akibat sengketa jasa pengangkutan tandan buah sawit (TBS) di PT Selatan Jaya Permai (Sampoerna) di di wilayah itu  Jumat pagi.

Berkaitan dengan tragedy itu Kepala Biro Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Dedi Kurniawan mengemukakan  informasi dari Camat Sungai Menang, peristiwa berdarah itu terjadi di Desa Gajah Mati, Jumat sekitar pukul 08.30 di lokasi perkebunan PT Selatan Jaya Permai. Kejadian itu bermula dengan dicegatnya mobil angkutan sawit milik Nopri oleh Sinabun yang memicu percecokan antarkeduanya. Kemudian, beberapa rekan Nopri mendatangi Sinabun dan pada akhirnya Sinabun tewas beserta rekannya terkena luka tembak.

Lantas, kelompok Sinabun membalas dengan menyerang Nopri yang berujung juga kematian.  Pada saat bentrok tersebut, terdapat juga satu orang korban meninggal dari kelompok Sinabung yakni Yono bin Kemal yang ditembak oleh orang tidak dikenal.

Sehingga, korban tewas dari kejadian tersebut mencapai tiga orang yakni Embun bin Basin dan Yono bin Kemal dari Desa Gajah Mati, dan Meri Bin Sodin dari Desa Sungai Ceper, serta dua orang dinyatakan kritis (Kenedi bin Amir dari Desa Gajah Mati dan Nopel bin Matlui dari Desa Sungai Ceper) dirawat di RSMH Palembang.

Bukan hanya itu kejadian  kemudian meluas karena kelompok Sinabung yang membakar mobil Nopri, juga dibalas oleh kelompok Nopri. Berkaitan dengan hal tersebut  Bupati OKI, Iskandar, SE  telah berkomunikasi dengan Kapolri untuk melaporkan kejadian tersebut.

Selain kejadian tersebut, pada hari yang sama  Kepala Desa Pagar Desa  juga tewas. Kita mengharapkan Pemkab OKI dan jajarannya dapat mengusut dan mencari akar permasalahan kasus tersebut hingga tuntas. Sebab sengketa antarwarga berkaitan masalah perkebunan sawit bukan hanya sekali ini terjadi. Tetapi sudah berulang-ulang dan banyak  korban berjatuhan. Akar masalah tentu saja bukan pada saat bupati yang sekarang memerintah tetapi bisa saja hal itu sudah terjadi saat bupati era terdahulu.

Oleh karena itu perlu pendalaman masalah itu diusut kronologisnya sehingga tertemukan benar akar masalahnya untuk penyelesaiannya. Dengan demikian rakyat di sekitar sawit tidak selalu menjadi korban. (Sarono P Sasmito)

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster