IKM Sumsel Meningkat 3 Persen

 289 total views,  4 views today

IKM Pengrajin Rotan | Dok KS

IKM Pengrajin Rotan | Dok KS

PALEMBANG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel mencatat, industri kecil dan menengah (IKM) di Sumsel pada 2013 lalu meningkat 3,11persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Disperindag Sumsel, Permana menyebut jumlah IKM yang terdata mencapai 44.368 unit usaha. Dari jumlah ini, capaian tenaga kerja yang terserap sebanyak 167.605 orang.  “Ada peningkatan ketimbang 2012 lalu, yakni 43.209 unit usaha IKM,” jelas Permana, Kamis (27/2) di Hotel Jayakarta Daira, Palembang.

Peningkatan tersebut menurutnya, bisa menjadi indikator utama peningkatan pergerakan perekonomian di Sumsel. Menurutnya, perkembangan IKM masih belum diberikan kesempatan untuk mengembangkan sayapnya.

Investor-investor berskala besar, baik dari luar ataupun domestik belum sepenuhnya mampu menyentuh investor padat karya di Sumsel. “Ini salah satu faktor penghambat pertumbuhan IKM di Sumsel,” jelasnya, usai Penandatanganan Kontrak Kerja Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) Program Beasiswa Angkatan 2009 dan 2010 Disperindag Sumsel.

Menurutnya, Disperindag secara berkala mengajak setiap BUMN, BUMD serta dunia usaha lain, untuk bisa saling berkoordinasi demi meningkatnya yang meningkatkan lagi dunia kewirausahaan di wilayah Sumsel ini.

Permana juga menyoroti sejumlah permasalahan lain, yang dinilai perlu mendapatkan perhatian dan dicarikan solusinya bersama. Saat ini diakuinya, kemampuan pengrajin lokal dinilai masih lemah untuk memperluas market bisnisnya.

“Mereka (pengrajin) masih bertahan dengan sistem tradisional. Sebaiknya, mereka juga mampu memanfaatkan teknologi, untuk memasarkan kerajinan tangan mereka,” tegas Permana.

Selain itu lanjutnya, karakteristik yang kurang dapat disatukan menyebabkan kurang memiliki kekuatan pada posisi tawar menawar dalam penentuan harga, produk hingga bahan baku yang ingin disediakan. Hal inilah, peranan stake holder untuk tetap fokus terhadap perkembangan IKM tersebut sangat diperlukan.

“Hal lainnya, besarnya potensi tenaga kerja di Sumsel kurang dimanfaatkan secara maksimal, begitu juga dengan penyediaan skema permodalan yang disediakan oleh pemerintah, baik itu CSR dan sebagainya juga belum bisa dimanfaatkan secara maksimal,” urainya.

Permana mengaku, Disperindag telah berupaya untuk mengurai permasalahan tersebut. Setidaknya lanjut dia, peningkatan kewirausahaan secara mandiri dan melakukan restrukturisasi untuk memfasilitasi semua yang dibutuhkan oleh para pelaku usaha, siap dilakukan pihaknya. “Kita wujudkan melalui pola kemitraan antara perusahaan besar dan kecil. Semoga ini bisa dilaksanakan,” jelasnya.

Terkait Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) beasiswa sendiri, menurut Permana, Sumsel mendapatkan alokasi untuk 16 orang pada enam daerah penugasan. Masing-masing, Banyuasin tujuh orang, Musirawas lima orang, Lubuklinggau satu orang, Lahat satu orang, Palembang satu orang, serta Sumsel satu orang.

“Jika mereka telah menyelesaikan beasiswanya, TPL ini diberdayakan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Sumsel. Mereka juga menjadi faktor utama, keberhasilan pendampingan ke pengrajin nantinya,” tegas Permana.

Sementara itu, Direktur Jendral (Dirjen) IKM, Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan, di Indonesia ada 20 kementerian yang mengurusi mikro kecil menengah. Banyaknya lembaga yang fokus terhadap IKM ini, seharusnya mampu dioptimalkan.

“Industri adalah peningkatan nilai tambah SDA yang ada di lingkungan kita. Jadi sangat keterlaluan, kalau angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Sebab ada sekitar 3, 2 juta IKM yang sudah berdiri di Indonesia ini. Jumlah ini wajib kita tambah di tahun mendatang,” tukasnya.

 

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster