Berlakukan Standar Makanan untuk IKM

 251 total views,  2 views today

*Sambut Masyarakat Asean 2015

PALEMBANG – Para pelaku industri kecil dan menengah (IKM), khususnya yang bergerak di sektor makanan wajib berusaha ekstra keras, pasalnya pemerintah pusat segera melakukan satu standar makanan untuk industri makanan mikro dalam rangka menyambut pemberlakukan masyarakat ekonomi Asean pada 2015 mendatang.

“IKM harus mampu bersaing keluar, karena 2015 nanti IKM, dari luar bisa bebas untuk masuk pasar kita. Karena kita termasuk negara Asean, kita juga akan memberlakukan standar baku yang mesti diikuti oleh IKM agar bisa mengedarkan produknya,” kata Dirjen IKM, Kementrian Perindustrian, Euis Saidah yang dibincangi di Hotel Jayakarta, Palembang, Kamis (27/2).

Euis juga meminta pelaku IKM di Sumsel, untuk semakin kreatif dalam mengembangkan usahanya. “Kalau terbatas modal, IKM harus mampu memperkuat kemitraan dengan pihak lain, misalnya dengan koperasi atau dengan cara menjadikan usahanya suatu franchise,” jelasnya.

Terkait ketersediaan bahan baku, yang sering kali membuat para pelaku IKM kewalahan, Euis mengingatkan agar penggunaan koperasi juga harus lebih dintensifkan. “Pelaku IKM umumnya berbelanja bahan baku, dengan volume kecil. Karenanya mereka harus berani, memanfaatkan keberadaan koperasi untuk mendapatkan bahan baku dengan volume besar,” cetusnya.

Disinggung mengenai program langsung yang akan dilakukan oleh pemerintah, untuk memperkuat daya saing IKM, Euis mengatakan kedepan Kementrian Perindustrian akan memperkuat kerjasama antar instansi, sehingga memberikan instensif  lain baik dalam bentuk dana maupun peralatan bagi para pelaku IKM.

“Selain koordinasi, kami juga akan berikan bantuan subsidi permesinan bagi para pelaku IKM hingga 40 persen, bagi mesin impor dan 45 persen bagi mesin lokal. Memang yang paling laris memanfaatkan program ini, baru IKM tekstil khususnya yang bergerak di sektor border,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel, Permana mengatakan, ada beberapa permasalah utama yang membuat IKM di Sumsel sulit berkembang.

“Diantaranya, lemahnya kemampuan pengrajin dalam mengantisipasi perubahan, rendahnya aplikasi inovasi teknologi, keberadaan bahan baku, tingkat keterampilan sumber daya manusia (SDM) hingga penyediaan skema permodalan. Ini masih menjadi pekerjaan rumah, yang harus diselesaikan,” tukasnya.

 

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster